Posted by: Moeflich on: December 4, 2007
Pesta adalah tradisi Barat yang dalam zaman modern ini sudah menjadi budaya bahkan di sebagian kalangan umat Islam sendiri, terutama di kalangan anak-anak muda. Banyak anak-anak muda yang tidak mendalami dan menghayati ajaran agama Islam menganggap pesta sebagai hal yang biasa dan wajar-wajar saja. Karena pesta adalah kegiatan bersenang-senang yang biasa diisi dengan hura-hura, tidak ada ajaran dan tuntunannya dalam Islam. Islam adalah ajaran luhur, agung dan mulia yang tidak menganjurkan hidup bersenang-senang. Segala bentuk kegiatan bersenang-senang cenderung melanakan, membuat lupa diri dan menjauhkan diri dari Allah SWT. Di bawah ini adalah nasihat, ada lima jenis pesta yang sepatutnya tidak dihadiri ketika kita diundang untuk menghadirinya, siapa pun yang mengundangnya, sepanjang kita lebih memilih untuk memelihara diri dan menjaga keimanan kita seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah s.a.w.
1. Pesta Perayaan
Pertama, yang tidak patut dihadiri adalah pesta perayaan. Pesta adalah tradisi non Islam yang tidak ada tempatnya dalam Islam. Berbeda dengan peringatan, pesta adalah merayakan sesuatu dengan bersenang-senang (walaupun tidak selalu melakukan yang diharamkan agama). Bersenang-senang itu bisa melenakan dan membuat lupa diri. Karenanya, bersenang-senang tidak dianjurkan oleh agama dan berlawanan dengan ketakwaan yang mengajarkan kesederhanaan, perenungan, introspeksi, ibadah dan peningkatan keimanan. Pesta perayaan adalah merayakan sesuatu dengan bergembira bersama dan bersenang-senang seperti pesta ulang tahun (individu, lembaga, negara), pesta seni, pesta kemerdekaan dan seterusnya. Apa saja bentuk pesta perayaan sepatutnya tidak dihadiri oleh seorang Muslim yang sadar dan berusaha ingin menjaga dan meningkatkan keimanannya.
2. Pesta Pernikahan
Yang kedua, pesta yang sebaiknya tidak dihadiri adalah pesta pernikahan. Kewajiban seorang Muslim menghadiri pernikahan adalah memenuhi undangan walimatul ursy, mengucapkan selamat, mendo’akan kedua mempelai dan mencicipi hidangan yang disediakan. Tapi, bila setelah pernikahan itu kemudian diadakan pesta pertunjukkan hiburan dengan mengundang artis, apalagi yang seksi memamerkan aurat, mengundang syahwat birahi, orang pada berjoget hingga lupa diri, lupa waktu dan lupa shalat. Atau pagelaran musik yang bising mengganggu tetangga atau hingar bingar memekakkan telinga, diwarnai dengan menghambur-hamburkan makanan, banyak terbuang dan sia-sia. Maka seorang Muslim sebaiknya tidak usah hadir walaupun di undang. Pesta seperti itu sudah berlebihan, diluar dari yang dianjurkan syara’ dan bisa melenakan, melemahkan keimanan, menurunkan kualitas diri.
3. Pesta Kemenangan
Yang ketiga adalah pesta kemenangan. Bagi kaum Muslimin yang memelihara keimanannya, kemenangan itu untuk disyukuri agar tidak lupa diri. Pada hakikatnya kemenangan merupakan anugrah Allah SWT dan tidak akan terjadi tanpa izin-Nya. Karena itu yang terbaik ketika mendapatkan kemenangan, prestasi, kemajuan dll adalah ingat kepada Allah yang memberinya dan mensyukurinya. Adakanlah acara tasyakur (syukuran) dengan penyelenggaraan yang tidak bertentangan ajaran dan pesan-pesan agama. Kegiatan yang bertentangan dengan pesan-pesan dan nasihat agama adalah apa saja yang sifatnya membuang-buang waktu, lupa diri, banyak tertawa, berlebih-lebihan (israf), banyak memubadzirkan makanan dan minuman, bersenang-senang dan seterusnya, yang itu semua, umumnya adalah karakter penyelenggaraan pesta. Bergembira dalam kemenangan tentu wajar dan dibolehkan, tetapi sepatutnya tidak perlu dirayakan dalam bentuk pesta kemenangan
4. Pesta Pergantian
Seorang Muslim juga sebaiknya tidak menghadiri –apalagi merayakan– pesta pergantian yang relatif tidak ada manfaatnya dan lebih merupakan ekspresi hura-hura, seperti pergantian tahun (tahun baru), pergantian kepemimpinan, pergantian jabatan dll. Pergantian tahun sesungguhnya berarti pengurangan umur manusia, maka mestinya yang diselenggarakan adalah renungan, pengajian, introspeksi dan pertaubatan. Pergantian jabatan dan kepemimpinan seharusnya diarahkan sebagai media introspeksi, media silaturahmi, media permohonan maaf terutama dari penjabat kepada bawahannya karena umumnya kepemimpinan seorang pejabat tidak lepas dari hal-hal yang mengecewakan anak buahnya, banyak program yang tidak jalan, kepemimpinan yang kurang baik, ada yang sakit hati, ada yang dikecewakan, ada yang terluka dan seterusnya yang semuanya akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah di akhirat kelak sebagai pemimpin. Pergantian akhir kepemimpinan, akhir jabatan, yang dirayakan dengan makan-makan di restoran apalagi dengan makanan yang mewah dan mahal-mahal, kemudian banyak memubadzirkannya adalah perilaku buruk yang bertentangan dengan akhlak agama. Orang yang melakukannya harus segera bertaubat, taubat tentang kepemimpinannya dan taubat tentang pesta yang diselenggarakannya yang tidak ada manfaatnya.
5. Pesta Kenaikan
Yang terakhir adalah pesta kenaikan: kenaikan pangkat, kenaikan jabatan, kenaikan posisi, kedudukan dll. Hendaknya janganlah dihadiri bila kenaikan posisi seseorang diwarnai dengan pesta makan-makan, penyelenggaraan acara hiburan dst. yang isinya adalah kegembiraan dan senang-senang, walaupun kita diundang. Kenaikan pangkat dan jabatan adalah kepercayaan dan amanat sekaligus ujian dan cobaan yang diberikan Allah. Darimana kita yakin, bahwa kenaikan posisi yang didapatkan, akan membuat kita lebih baik dan lebih mulia di hadapan Allah? Siapa tahu dengan kenaikan pangkat dan jabatan justru kehidupan seseorang menjadi hancur dan celaka. Terlalu banyak contoh orang jatuh karena posisi dan jabatan yang didudukinya, karena dengan kedudukan yang diraihnya dia jadi takabur, riya, korupsi dan semakin jauh dari Allah.
Kedudukan dan posisi yang tinggi bisa membuat kita semakin sibuk dan sibuk terus dengan urusan dunia, akhirnya jauh dari agama dan semakin sempit kesempatan melaksanakan ibadah. Makin jarang introspeksi, makin akan sulit menerima nasihat dan tidak ada kesempatan melakukan perenungan, mendalami agama dan memperbanyak ibadah. Bila itu yang terjadi, kita akan mudah jatuh dan celaka oleh kedudukan yang kita miliki. Bila ini yang dihayati, bagaimana mungkin seorang Muslim menyelenggarakan pesta ketika mengalami kenaikan pangkat dan jabatan? Ketika kita mengalami kenaikan posisi, yang baik itu adalah mengucapkan “innalillahi wa inna ilahi raji’un” dan berdoa agar selamat dari cobaan dan ujian melalui jabatan itu, bukan malah bersenang-senang dengan makan-makan. Lebih baik uang untuk makan-makan itu dibagikan kepada kepada fakir miskin yang lapar. Itu jauh lebih mulia dan menyelamatkan daripada di makan-makan di restoran. Menjamu dan memberi makan fakir miskin mudah-mudahan menjadi do’a, menjadi penyelamat kita dari ujian dan cobaan dan sebagai penebus dosa-dosa yang kita lakukan selama kita memegang jabatan dan kepemimpinan. Wallahu ‘alam.[]
December 4, 2007 at 12:14 pm
Rupanya Mas Moef ini senang hal-hal spiritual sufistik yah sehingga pesta pun harus dihindari, terutama yang lima itu heheee