Posted by: Moeflich on: December 10, 2007
Dalam kehidupan, dialog itu penting untuk mencari persamaan pandangan, untuk mencari saling pengertian dan memecahkan masalah. Tetapi, ada sekelompok orang yang tidak bisa diajak dialog sama sekali. Mereka itu adalah orang yang bebal fikirannya atau selalu memutlakkan pendapatnya. Dialog dengan mereka akan macet, tidak ada pertukaran fikiran, tidak ada manfaatnya dan sia-sia. Menghindari perbuatan sia-sia adalah nasihat agama. Orang seperti ini ada ciri-ciri yaitu: vonis, sinis, sadis, bombastis dan bau amis.
1. Vonis
Vonis adalah sikap dan pembicaraan yang selalu menghukumi atau memvonis orang: menghukumi pandangan, pikiran dan pendapat orang lain, juga menghukumi situasi dengan ukuran kebenaran yang terbatas yang ada pada dirinya. Ketika dialog, orang itu kesukaannya memvonis saja. Walaupun yang divonis adalah pendapat, pandangan dan fikiran tetapi nuansa dan arahnya bersifat pribadi. Menghukumi pendapat orang tapi akibat yang dirasakannya pribadi. Vonis-vonis seperti mengatakan seseorang “kafir,” “musyrik,” “murtad,” “amalnya tidak diterima,” “ini sah,” “itu tidak sah” dan sebagainya. Penghukuman terhadap pribadi orang, bahwa pribadi orang itu salah, kafir, musyrik, murtad dan sebagainya adalah bukan bahasa dialog. Main vonis adalah buruk karena bukan hak manusia sebagai hamba untuk melakukannya. Ungkapan-ungkapan vonis pada situasi misalnya, ada kasus kecelakaan di jalan raya disebabkan kemacetan. Kebetulan saat itu sedang ada rombongan presiden lewat. Lalu, ada orang yang mengutarakan berpendapatnya: “Ini gara-gara presiden lewat, jadi tuh lihat ada kecelakaan!” Ini ungkapan vonis, karena belum ada hubungannya. Atau ungkapan yang lebih teratur: “Saya kira para`pejabat itu harus meninjau ulang kedatangannya ke jalan raya, karena ternyata kedatangannya itu menelan korban.” Ini ungkapan vonis. Dia tidak tahu menahu persoalannya, kemudian dengan mudah memvonis situasi, bahwa orang lain berdosa telah menimbulkan korban. Padahal, apa hubungan rombongan presiden atau pejabat lewat dengan kecelakaan seseorang? Mungkin tidak ada hubungannya sama sekali. Ini sekadar contoh berfikir vonis. Contoh lain, misalnya ada ustadz ditanya soal pahala shalat, dia menjawab, “Yaa shalat seperti itu sah, tapi tidak mendapat pahala.” Atau, “Amal seperti itu jelas-jelas tidak akan diterima oleh Allah.” Tahu dari mana ustadz itu soal urusan pahala atau diterima tidaknya sebuah amal? Seolah-olah dialah yang membagikan pahala dari Allah SWT kepada manusia. Bila orang terbiasa mengungkapkan vonis apalagi yakin bahwa vonisnya benar, sudah, orang itu tidak bisa dan tidak perlu diajak dialog. Tinggalkan saja.
2. Sinis
Bila vonis adalah penyerangan pada pribadi, maka sinis adalah penyerangan pada fungsi, hak dan status orang. Sinis adalah fungi dan hak orang diabaikan, kemudian kita bersikap sinis untuk membenarkan apa yang kita lakukan. Sikap sinis ini dilakukan di depan atau di belakang. Dalam ungkapan sinis, yang dikomentarinya adalah fungsinya, statusnya, penampilannya, fisiknya. Dengan kata lain, yang diperhatikan aspek luarnya, bukan isi argumennya. Contoh ungkapan sinis, ada orang bertanya kepada seorang ustadz dalam sebuah pengajian. Orang itu meminta komentar sang ustadz tentang penampilan seorang da’i kondang di Bandung: “Kalau tidak bisa bahasa Arab dan menguasai kitab ya bukan kiayi. Dia kan hanya mengajarkan tatakrama saja. Dalam berdakwah juga, pakaian itu kan yaa… biasa saja tidak usah berpenampilan seperti Pangeran Dipenogoro begitu. Itukan tidak ada keharusannya.” Ini ungkapan sinis yang datang dari kedengkian. Ada juga ustadz fiqh yang mengomentari fenomena dzikir bersama dengan ungkapan, “Dzikir kok rame-rame begitu, apalagi yang memimpinnya ustadznya tukang memindahkan penyakit kepada binatang itu kan? Dzikir sih biasa-biasa saja tidak perlu rame-rame begitu, kecuali ingin terkenal.” Ini adalah ungkapan sinis. Dialog dengan orang seperti ini hanya akan membuang-buang waktu, karenanya tidak perlu.
3. Sadis
Sadis adalah sikap menyerang orang berdasarkan selera dirinya, bukan kebenaran. Ungkapan melukai dan menyinggung orang lain dengan klaim-klaim yang menyalahkan secara mutlak. Orang lain sudah tidak ada lagi kebaikannya sama sekali dan mutlak kesalahannya, lalu dihukumi secara sadis. Misalnya, ungkapan, “Tokoh pembaru Islam di Indonesia itu kan belajarnya di Amerika. Dengan demikian, jelas bahwa dia tidak dipisahkan dari yahudi zionis, karena belajarnya saja di sarang orientalis.” Ini contoh ungkapan sadis. Atau, “orang Kristen itu pasti masuk neraka. Mereka kan orang kafir.” Atau, “orang non-Islam pasti masuk neraka semua, mereka itu kafir kepada Allah SWT.” Omongan ini sadis dan tanpa ilmu. Selain ungkapannya belum tentu benar, karena itu urusan Allah, juga menyakiti kelompok lain secara tidak perlu. Kemudian, bila pun benar ada keterangan Al-Qur’an yang berbunyi begitu, tapi apa kepentingannya dan manfaatnya kita sebagai Muslim berbicara begitu? Bukankah itu ungkapan yang tidak ramah pada sesama manusia? Tugas kita sebagai Muslim bukan untuk menilai-nilai seperti itu. Yang benar, ajak mereka kepada keyakinan Islam dengan cara yang baik. Memvonis secara sadis seperti itu adalah hak Tuhan sepenuhnya, bukan urusan manusia. Tugas kita adalah menjelaskan kebenaran yang kita miliki bukan memvonis-vonis secara sadis. Orang yang ungkapannya selalu sadis seperti ini tidak perlu diajak dialog karena tidak ada manfaatnya.
4. Bombastis
Bombastis adalah sikap kebaikan palsu, atau kebaikan yang semu. Orang seperti mengungkapkan kebaikan tetapi sebenarnya palsu dan semu, tidak asli, tidak sesungguhnya. Tujuannya, hanya untuk membuat orang lain senang saja. Bombastis juga adalah menyerang orang selintas-selintas, kadang-kadang. Misalnya, ada orang maju diserang, sudah menyerang berhenti. Ada orang terkenal dan disukai banyak orang, disindir-sindir secara sentimen. Itu juga adalah sikap bombastis. Mendukung kebaikan tanpa argumen juga adalah sikap bombastis. Orang yang ucapannya bombastis tidak bisa diajak dialog karena kepalsuan-kepalsuan yang ada pada dirinya. Orang bombastis lebih konsern pada usaha menyenangkan orang secara palsu untuk mendapat pujian, daripada usaha untuk mencari kebenaran.
5. Bau Amis
Bau amis adalah mulutnya, komentarnya, ucapannya selalu tidak enak didengar, karena tidak nyambung, bau amis seperti ikan mentah. Komentarnya selalu menyudutkan orang, ucapannya selalu membuat orang tersinggung. Orang seperti ini mulutnya bau amis. Orang seperti tidak perlu diajak dialog, hanya buang-buang waktu, karena tidak bisa diajak berfikir benar, tidak bisa rasional dan tidak bisa berargumen yang baik.[]