Kitab Paradigma Hikmah Lima

Saat-saat ketika Seseorang Harus Diingatkan bahwa Amalnya Harus karena Allah Semata

Posted by: Moeflich on: December 17, 2007

Ketika seseorang beramal, misalnya memberi atau menolong orang lain, ada orang yang kecewa karena orang yang diberi atau ditolongnya tidak tahu diri atau tidak tahu terima kasih. Kekecewaan ini manusiawi. Banyak kasus, setelah kita memberi, membantu atau menolong seseorang, orang yang dibantu itu tidak mengucapkan terima kasih, malah ada yang bersikap sebaliknya. Dalam kasus seperti ini iman dan keikhlasan kita benar-benar diuji. Seharusnya, sikap ikhlas yang murni tidak perduli terhadap sikap dan reaksi apapun dari orang yang kita tolong. Menolong atau membantu sepatutnya harus benar-benar karena Allah, bukan karena seseorang termasuk orang yang kita bantu itu. Dibawah ini adalah nasihat tentang kekecewaan yang tidak perlu terjadi, kekecewaan yang perlu diabaikan atau jangan difikirkan, dalam rangka membangun keikhlasan yang benar. Barangsiapa tidak perduli terhadap sikap orang yang ditolong setelah dia menolongnya, imannya benar-benar karena Allah SWT. Ketika seseorang beramal harus diingatkan bahwa amalnya harus semata-mata karena Allah, bukan karena orang yang ditolong. Ini memang sulit tapi harus dilatih agar kita bisa meningkatkan kualitas keikhlasan kita di mata Allah SWT.

 

1. Kecewa karena Tidak
Kita sering berbuat sesuatu kebaikan kepada orang lain. Misalnya memberikan pertolongan. Kita memberi uang, membantu berupa benda atau barang, memberikan perhatian, memberikan dorongan, saran dan masukan dan seterusnya. Orang yang ditolong atau dibantu pun merasakan ditolong, merasakan kebaikan kita. Ia mendengarkan dan membenarkan kata-kata dan nasehat kita. Tapi ternyata, ia tidak melaksanakannya, tidak nurut, tidak mengikuti saran dan keinginan kita padahal di depan kita ia mendengarkan, takzim dan hormat. Pada pelaksanannya, ia tetap saja mengikuti pikirannya sendiri. Membandel. Pertolongan, bantuan dan saran-saran kita tidak dilaksanakannya. Oleh sikap orang seperti ini kita tentu kecewa. Ini adalah sikap kecewa karena “tidak.” Tapi, kita harus segera meluruskan niat bahwa kita membantu orang hanya karena Allah saja, bukan karena ingin diturut atau ditaati oleh orang yang kita tolong. Kewajiban kita menolong, bahwa seseorang menerima pertolongan atau tidak bukan urusan kita, itu urusan dia sepenuhnya. Hasilnya, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Kita tidak boleh kecewa karena “tidak”: tidak berterima kasih, tidak nurut, tidak melaksanakan dst.

2. Kecewa karena Tiada
Kita juga mungkin kecewa pada orang yang sering kita beri nasehat, kita beri saran berulang-ulang, kita arahkan cara berfikir dan bertindaknya, tapi “tiada” bekasnya sedikitpun. Tetap saja, tiada perubahan, tiada peningkatan dan tiada kemajuan pada dirinya. Omongan kita hanya didengarkan tapi tiada bekas dan pengaruh dalam dirinya. Oleh kenyataan seperti ini kita harus segera mengembalikan kekecewaan kita kepada Allah SWT. Hanya karena Allah saja kita membantu orang bukan karena berharap hasilnya memuaskan. Inilah yang tidak boleh terjadi yaitu kecewa karena tiada.

3. Kecewa karena Sia-sia
Ada juga orang yang mendengarkan nasehat, saran dan masukan kita, ia melaksanakannya tapi tidak tepat momennya, jadilah sia-sia. Ia faham dan mengerti apa yang kita sarankan tapi tidak tepat waktu melaksanakannya, tidak tepat caranya, tidak tepat konteksnya, atau tidak mau melaksanakannya. Akhirnya pertolongan dan bantuan kita pun menjadi sia-sia. Kita kecewa karena hasilnya tidak ada, sia-sia. Kembali, kita harus menyerahkan urusan seperti ini kepada Allah agar kita ikhlas memberi pertolongan kepada orang lain.

4. Kecewa karena Hampa
Mungkin kita pernah memberikan bantuan pada seseorang, berupa materi, uang, simpati atau dorongan psikologis tapi tidak ada arti dan manfaatnya baik buat yang menolongnya maupun yang ditolongnya. Semuanya jadi hampa. Inilah maksud kecewa karena hampa. Mungkin kita ikhlas menolong tapi dengan cara yang keliru, tanpa kita sadari. Atau kita habis-habisan membantu orang yang bebal, orang yang hatinya sudah tertutup dan terkunci, orang yang kesadarannya mati dst. Tolong menolong seperti ini ujung-ujungnya adalah kehampaan. Kita beramal merasa sudah dengan perhitungan yang baik dan tepat, dengan strategi yang tepat agar bermanfaat, agar ada hasilnya, tapi ternyata tetap saja tidak ada perubahan, tidak ada hasilnya, hampa. Lalu kita berfikir buat apa melakukan sesuatu yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya. Nah, orang yang kecewa karena hampa ini harus diingatkan agar mengembalikan niatnya karena Allah SWT. Orang yang beramal tidak boleh kecewa karena hampa, beramal saja karena Allah biar tidak hampa.

5. Kecewa karena Sebaliknya
Ini adalah perbuatan kita menolong, berbuat baik pada seseorang, tapi hasilnya malah sebaliknya yaitu merugikan dan mencelakakan diri kita sendiri. Orang bukan membalas pertolongan dan kebaikan kita tapi malah membenci, memusuhi dan antipati. Mungkin karena salah sangka, curiga, atau memang akhlaknya buruk yaitu tidak tahu diri. Istilah Sundanya “nulungan anjing kadempet” (menolong anjing yang kejepit, setelah ditolong malah menggigit). Pasti kita kecewa oleh sikap orang seperti ini. Tapi disinilah keikhlasan kita benar-benar diuji. Karenanya, kita mesti membiasakan beramal, berbuat sesuatu, menolong orang lain karena Allah semata-mata tanpa berharap hasil. Hasil biar saja itu urusan Allah sepenuhnya.[]

Advertisement

1 Response to "Saat-saat ketika Seseorang Harus Diingatkan bahwa Amalnya Harus karena Allah Semata"

Great reminder! in the final analysis, what really count is how someone does his/her good deed with the intention of lilahitaala.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • ahmad: syukran atas artikelnya... sy ingin tanya doa apa yg bisa dibaca agar proses melahirkan berjalan lancar.... syukran
  • Zamah Saari: Menurut saya penjelasan di atas terlalu sempit tapi termasuk bagian yang benar. Bicara alam semesta maka isinya tidak hanya manusia di bumi ini. T
  • rizki: rizky. trimakasi uda di kasi tips.moga2 bs slsai nie mslh/soaly uda di ujung tanduk.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.