<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kitab Paradigma Hikmah Lima</title>
	<atom:link href="http://syaghafan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://syaghafan.wordpress.com</link>
	<description>ILMU TAUBIKHIYAH</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Nov 2011 14:06:05 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='syaghafan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kitab Paradigma Hikmah Lima</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://syaghafan.wordpress.com/osd.xml" title="Kitab Paradigma Hikmah Lima" />
	<atom:link rel='hub' href='http://syaghafan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Memeriksa Kembali Refleksi Syahadat Kita</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2010/10/30/memeriksa-kembali-refleksi-syahadat-kita/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2010/10/30/memeriksa-kembali-refleksi-syahadat-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 Oct 2010 06:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Syahadat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Mata Air Bening Nilai-nilai Syahadat Syekh Endang Somalia Moeflich Hasbullah a Syahadat adalah kesaksian seorang Muslim bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul utusan-Nya. Pengakuan ini memiliki konsekuensi bahwa Allah adalah Tuhan kita yang satu dan selamanya, hidup kita merasa berada dalam pengawasan-Nya, hidup kita pasrah diatur oleh kehendak-Nya. Dengan demikian, kesaksian dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=108&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="color:#000080;"><strong>Mata Air Bening Nilai-nilai Syahadat</strong></span></h3>
<p><span style="color:#008000;">Syekh Endang Somalia</span><br />
<span style="color:#008000;"> Moeflich Hasbullah</span></p>
<p><span style="color:#008000;"><span style="color:#ffffff;">a</span><br />
</span></p>
<p><span style="color:#000080;"><em>Syahadat adalah kesaksian seorang Muslim bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul utusan-Nya. Pengakuan ini memiliki konsekuensi bahwa Allah adalah Tuhan kita yang satu dan selamanya, hidup kita merasa berada dalam pengawasan-Nya, hidup kita pasrah diatur oleh kehendak-Nya. Dengan demikian, kesaksian dan sumpah ini harus dibuktikan dalam kehidupan apakah syahadat kita hanya dimulut atau benar-benar dibuktikan dalam segala sikap dan perbuatan. Setiap Muslim akan diminta pertangungjawabannya di akhirat kelak tentang pengakuan syahadatnya. Kita sering tidak menyadari sikap dan perbuatan kita sehari-hari tidak sesuai dengan syahadat atau kesaksian yang kita ikrarkan. Lain kata, pengakuan kita hanya di mulut. Kesaksian syahadat seharusnya berarti lima hal seperti di bawah ini sebagai bukti pengakuan keimanan kita kepada Allah.<span id="more-108"></span></em></span></p>
<p><strong>1. Karena-Nya</strong><br />
Pertama, bersyahadat artinya harus karena-Nya. Karena-Nya adalah melakukan segala sesuatu karena Allah SWT, tidak karena yang lain. Ini adalah basis dalam melakukan segala amal ibadah, dasar dalam bertauhid. Apa pun yang dilakukan oleh seorang Muslim harus selalu dalam rangka karena Allah. Hidup diniatkan karena Allah, ibadah karena Allah, bekerja dan berusaha karena Allah, berbuat sesuatu karena Allah, mencinta dan membenci karena Allah, mencari ilmu karena Allah, memimpin karena Allah, menolong dan membantu orang karena Allah dan seterusnya. Contoh, shalat jelas-jelas harus karena Allah: “Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk” (Al-Baqarah: 328). Menegakkan kebenaran harus karena Allah: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Maidah: 8). Tawakkal harus karena Allah: “Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mukmin bertawakal” (Ali Imran: 122). Segala sesuatu karena-Nya akan mendatangkan keikhlasan yang murni dalam diri kita. Karena segala sesuatu dilakukan karena Allah, maka bila misalnya kita berbuat baik pada seseorang dan kebaikan kita tidak mendapatkan respon yang simpatik dari orang yang bersangkutan, atau tidak mendapat balasan kebaikan, kita tidak perduli, tidak ambil pusing, tidak dipikirkan, biarkan saja, karena apa yang kita lakukan bukan karena dia tapi karena Allah. Inilah karena-Nya sebagai bukti bersyahadat yang benar. Orang yang kesal apalagi marah karena kebaikannya tidak dibalas, menunjukkan amalnya bukan karena Allah tapi karena balasan atau karena orang itu.</p>
<p><strong>2. Untuk-Nya</strong><br />
Yang kedua, melakukan segala sesuatu untuk-Nya. Sebagai Muslim, selain karena-Nya, segala sesuatu harus dilakukan dan dipersembahkan hanya untuk Allah. Untuk-Nya adalah menyangkut hasil kerja setelah kita melakukan sebuah amal kebaikan dan ibadah. Untuk-Nya adalah meniatkan segala perbuatan dan hasilnya hanya untuk Allah semata. Kita beramal dan berbuat baik untuk Allah bukan untuk yang lain-lain. ”Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’” (Al-An’am: 162). Ketaatan kita hanya untuk Allah saja: “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim” (Al-Baqarah : 193).</p>
<p><strong>3. Didalam-Nya</strong><br />
Yang ketiga melakukan segala sesuatu didalam-Nya. Segala tindakan dan perbuatan kita harus dikerjakan dalam aturan, kehendak dan ridha Allah. Karena kita sudah bersaksi mengakui Allah sebagai Tuhan kita dalam syahadat, artinya kita akan taat total kepada-Nya. Ketaatan itu adalah mengerjakan sesuatu dalam aturan Allah SWT. Inilah makna ketiga bersyahadat dalam kehidupan. Kita tidak boleh melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah atau syari’at agama. Jadi harus didalam-Nya yaitu dalam cara dan proses yang dikehendaki Allah. Mencari rezeki, mencari ilmu, beribadah, berdakwah, bergaul, mendapatkan jabatan dan lain-lain semuanya harus dilakukan dengan cara yang benar menurut aturan dan kehendak Allah SWT. Mendapatkan rizki dan mencari uang dengan cara tidak halal, berarti tidak di dalam (aturan)-Nya, berarti syahadatnya belum benar, berarti syahadatnya dilanggar sendiri. Mencari ilmu dengan niat yang salah seperti kesombongan, untuk jabatan, karir atau uang, berarti tidak didalam aturan Allah, berarti syahadat-Nya belum benar. Beribadah dengan riya, berbuat amal agar mendapat pujian, meminta jabatan apalagi memobilisasi massa agar terpilih jadi pemimpin, dengan kasak-kusuk, berjanji palsu, bagi-bagi uang (money politics), niatnya untuk mendapatkan fasilitas dan penghormatan, dll adalah sikap bukan didalam-Nya, bukan dalam aturan-Nya. Orang seperti ini syahadatnya belum benar. Ia melanggar syahadat, melanggar kesaksiannya sendiri di hadapan Allah SWT. Tauhidnya hanya dimulut, tidak dibuktikan dalam tindakan nyata.</p>
<p><strong>4. Segala-Nya</strong><br />
Keempat, bersyahadat harus segala-Nya. Segala-Nya adalah melakukan amal perbuatan, sejak dari niat, proses, cara, tujuan dan hasil segalanya dalam aturan dan keridhaan Allah. Niatnya benar, caranya benar, tujuannya benar, hasilnya juga benar. Inilah sikap segala-Nya sebagai bukti syahadat kita kepada Allah. Kebanyakan kita beramal hanya sebagian-sebagian. Misalnya, niatnya karena Allah, tapi caranya salah. Mulutnya mengatakan bahwa tujuannya ibadah karena Allah tapi niatnya ingin dapat pujian dan ketika dipuji senang. Niatnya karena Allah tapi cara melakukannya. Orang yang tidak segala-Nya menunjukkan syahadatnya belum benar karena dasar atau keyakinannya tidak sesuai dengan perbuatannya. Atau, perbuatannya tidak nyambung dengan keyakinannya. Akibatnya, kita masuk ke dalam golongan munafik, sikap yang dikutuk dalam agama.</p>
<p><strong>5. Kepada-Nya</strong><br />
Kepada-Nya adalah menyangkut arah, yaitu hanya kepada Allah kita mengarahkan amal ibadah kita. Misalnya shalat. Niatnya karena Allah SWT, caranya sesuai dengan syari’at, tapi arahnya juga harus menghadap kiblat, tidak bisa kemana saja. Menghadap kiblat ini adalah makna kepada-Nya. Bila niat dan caranya benar tapi tidak menghadap kiblat, berarti hanya karena-Nya dan didalam-Nya tapi tidak kepada-Nya karena melanggar ketentuan syari’at. Ibadah melanggar ketentuan syari’at artinya artinya ibadahnya tidak benar atau tauhidnya tidak utuh. Contoh lain, kita akan memberikan shadaqah atau infak pada seseorang, lalu kita memilih dan mengutamakan yang orangnya jujur, akhlaknya bagus dan ibadahnya rajin, itu berarti kepada-Nya. Kalau asal memberi kepada siapa saja, bisa jadi pemberian kita tidak bermanfaat sehingga nilainya kurang, fadhilahnya rendah. Atau, misalnya kita beramal memberi bantuan kepada sebuah sekolah. Walaupun ada madrasah yang kekurangann dan membutuhkan tapi kita memberikannya kepada sekolah umum, itu berarti tidak kepada-Nya. Demikian juga shadaqah kepada yayasan yatim piatu. Bila tidak memperdulikan yayasannya apa, kita menganggap yang Islam atau bukan sama saja, itu berarti tidak kepada-Nya. Amalnya baik tapi belum benar. Amal kita hanya karena-Nya dan tidak kepada-Nya. Bersyahadat itu harus lurus, utuh dan lengkap, semuanya harus mengarah kepada Allah SWT. Pada kenyataannya, berbuat kebaikan tidak bisa kepada siapa saja, harus kepada yang tepat. Banyak memberi kepada pengemis belum tentu membawa kebaikan. Jelasnya, tidak akan menjadi ibadah bila malah membuatnya semakin giat mengemis. Dalam berinfak dan shadaqah, kita harus memilih-milih sasaran yang lebih tepat. Dan pada dasarnya, kita lebih suka memberi orang yang baik, yang amanat, yang akhlaknya bagus, yang agamanya taat, yang dampaknya baik. Bershadaqahlah ke tempat-tempat yang lebih menenangkan dan menentramkan hati kita seperti orang yang membutuhkan, orang yang sedang bertaubat, orang yang sedang mencari ilmu, ke tempat-tempat ibadah seperti masjid, sekolah, pesantren atau madrasah. Inilah amal kepada-Nya sebagai refleksi dan kesadaran tauhid yang lengkap kepada Allah, tidak sebagian-sebagian.[]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=108&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2010/10/30/memeriksa-kembali-refleksi-syahadat-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saat-saat ketika Seseorang Harus Diingatkan bahwa Amalnya Harus karena Allah Semata</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/17/saat-saat-ketika-seseorang-diingatkan-bahwa-amalnya-harus-karena-allah-semata/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/17/saat-saat-ketika-seseorang-diingatkan-bahwa-amalnya-harus-karena-allah-semata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 10:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Ikhlas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/17/saat-saat-ketika-seseorang-diingatkan-bahwa-amalnya-harus-karena-allah-semata/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika seseorang beramal, misalnya memberi atau menolong orang lain, ada orang yang kecewa karena orang yang diberi atau ditolongnya tidak tahu diri atau tidak tahu terima kasih. Kekecewaan ini manusiawi. Banyak kasus, setelah kita memberi, membantu atau menolong seseorang, orang yang dibantu itu tidak mengucapkan terima kasih, malah ada yang bersikap sebaliknya. Dalam kasus seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=95&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Ketika seseorang beramal, misalnya memberi atau menolong orang lain, ada orang yang kecewa karena orang yang diberi atau ditolongnya tidak tahu diri atau tidak tahu terima kasih. Kekecewaan ini manusiawi. Banyak kasus, setelah kita memberi, membantu atau menolong seseorang, orang yang dibantu itu tidak mengucapkan terima kasih, malah ada yang bersikap sebaliknya. Dalam kasus seperti ini iman dan keikhlasan kita benar-benar diuji. Seharusnya, sikap ikhlas yang murni tidak perduli terhadap sikap dan reaksi apapun dari orang yang kita tolong. Menolong atau membantu sepatutnya harus benar-benar karena Allah, bukan karena seseorang termasuk orang yang kita bantu itu.</em><span id="more-95"></span><em> Dibawah ini adalah nasihat tentang kekecewaan yang tidak perlu terjadi, kekecewaan yang perlu diabaikan atau jangan difikirkan, dalam rangka membangun keikhlasan yang benar. Barangsiapa tidak perduli terhadap sikap orang yang ditolong setelah dia menolongnya, imannya benar-benar karena Allah SWT. Ketika seseorang beramal harus diingatkan bahwa amalnya harus semata-mata karena Allah, bukan karena orang yang ditolong. Ini memang sulit tapi harus dilatih agar kita bisa meningkatkan kualitas keikhlasan kita di mata Allah SWT.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>1. Kecewa karena Tidak</strong><br />
Kita sering berbuat sesuatu kebaikan kepada orang lain. Misalnya memberikan pertolongan. Kita memberi uang, membantu berupa benda atau barang, memberikan perhatian, memberikan dorongan, saran dan masukan dan seterusnya. Orang yang ditolong atau dibantu pun merasakan ditolong, merasakan kebaikan kita. Ia mendengarkan dan membenarkan kata-kata dan nasehat kita. Tapi ternyata, ia tidak melaksanakannya, tidak nurut, tidak mengikuti saran dan keinginan kita padahal di depan kita ia mendengarkan, takzim dan hormat. Pada pelaksanannya, ia tetap saja mengikuti pikirannya sendiri. Membandel. Pertolongan, bantuan dan saran-saran kita tidak dilaksanakannya. Oleh sikap orang seperti ini kita tentu kecewa. Ini adalah sikap kecewa karena “tidak.” Tapi, kita harus segera meluruskan niat bahwa kita membantu orang hanya karena Allah saja, bukan karena ingin diturut atau ditaati oleh orang yang kita tolong. Kewajiban kita menolong, bahwa seseorang menerima pertolongan atau tidak bukan urusan kita, itu urusan dia sepenuhnya. Hasilnya, kita serahkan sepenuhnya kepada Allah. Kita tidak boleh kecewa karena “tidak”: tidak berterima kasih, tidak nurut, tidak melaksanakan dst.</p>
<p align="justify"><strong>2. Kecewa karena Tiada</strong><br />
Kita juga mungkin kecewa pada orang yang sering kita beri nasehat, kita beri saran berulang-ulang, kita arahkan cara berfikir dan bertindaknya, tapi “tiada” bekasnya sedikitpun. Tetap saja, tiada perubahan, tiada peningkatan dan tiada kemajuan pada dirinya. Omongan kita hanya didengarkan tapi tiada bekas dan pengaruh dalam dirinya. Oleh kenyataan seperti ini kita harus segera mengembalikan kekecewaan kita kepada Allah SWT. Hanya karena Allah saja kita membantu orang bukan karena berharap hasilnya memuaskan. Inilah yang tidak boleh terjadi yaitu kecewa karena tiada.</p>
<p align="justify"><strong>3. Kecewa karena Sia-sia</strong><br />
Ada juga orang yang mendengarkan nasehat, saran dan masukan kita, ia melaksanakannya tapi tidak tepat momennya, jadilah sia-sia. Ia faham dan mengerti apa yang kita sarankan tapi tidak tepat waktu melaksanakannya, tidak tepat caranya, tidak tepat konteksnya, atau tidak mau melaksanakannya. Akhirnya pertolongan dan bantuan kita pun menjadi sia-sia. Kita kecewa karena hasilnya tidak ada, sia-sia. Kembali, kita harus menyerahkan urusan seperti ini kepada Allah agar kita ikhlas memberi pertolongan kepada orang lain.</p>
<p align="justify"><strong>4. Kecewa karena Hampa</strong><br />
Mungkin kita pernah memberikan bantuan pada seseorang, berupa materi, uang, simpati atau dorongan psikologis tapi tidak ada arti dan manfaatnya baik buat yang menolongnya maupun yang ditolongnya. Semuanya jadi hampa. Inilah maksud kecewa karena hampa. Mungkin kita ikhlas menolong tapi dengan cara yang keliru, tanpa kita sadari. Atau kita habis-habisan membantu orang yang bebal, orang yang hatinya sudah tertutup dan terkunci, orang yang kesadarannya mati dst. Tolong menolong seperti ini ujung-ujungnya adalah kehampaan. Kita beramal merasa sudah dengan perhitungan yang baik dan tepat, dengan strategi yang tepat agar bermanfaat, agar ada hasilnya, tapi ternyata tetap saja tidak ada perubahan, tidak ada hasilnya, hampa. Lalu kita berfikir buat apa melakukan sesuatu yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya. Nah, orang yang kecewa karena hampa ini harus diingatkan agar mengembalikan niatnya karena Allah SWT. Orang yang beramal tidak boleh kecewa karena hampa, beramal saja karena Allah biar tidak hampa.</p>
<p align="justify"><strong>5. Kecewa karena Sebaliknya</strong><br />
Ini adalah perbuatan kita menolong, berbuat baik pada seseorang, tapi hasilnya malah sebaliknya yaitu merugikan dan mencelakakan diri kita sendiri. Orang bukan membalas pertolongan dan kebaikan kita tapi malah membenci, memusuhi dan antipati. Mungkin karena salah sangka, curiga, atau memang akhlaknya buruk yaitu tidak tahu diri. Istilah Sundanya “nulungan anjing kadempet” (menolong anjing yang kejepit, setelah ditolong malah menggigit). Pasti kita kecewa oleh sikap orang seperti ini. Tapi disinilah keikhlasan kita benar-benar diuji. Karenanya, kita mesti membiasakan beramal, berbuat sesuatu, menolong orang lain karena Allah semata-mata tanpa berharap hasil. Hasil biar saja itu urusan Allah sepenuhnya.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syaghafan.wordpress.com/95/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syaghafan.wordpress.com/95/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/95/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/95/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/95/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=95&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/17/saat-saat-ketika-seseorang-diingatkan-bahwa-amalnya-harus-karena-allah-semata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syarat Kemampuan Seorang Pemimpin</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/15/syarat-kemampuan-seorang-pemimpin/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/15/syarat-kemampuan-seorang-pemimpin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Dec 2007 12:34:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/15/syarat-kemampuan-seorang-pemimpin/</guid>
		<description><![CDATA[Tentang kriteria seorang pemimpin yang dicanangkan, atau yang disyaratkan dalam sebuah pemilihan, atau dalam sebuah lembaga, biasa adalah memiliki visi, misi, transparan, aspiratif, antikorupsi dan sebagainya. Itu semua tidak salah, itu semuanya harus. Tapi, semua itu lebih menyangkut pada kualitas dirinya sendiri, tidak langsung fungsinya terhadap anak buahnya. Selain menyangkut kualitas dirinya, di bawah ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=94&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Tentang kriteria seorang pemimpin yang dicanangkan, atau yang disyaratkan dalam sebuah pemilihan, atau dalam sebuah lembaga, biasa adalah memiliki visi, misi, transparan, aspiratif, antikorupsi dan sebagainya. Itu semua tidak salah, itu semuanya harus. Tapi, semua itu lebih menyangkut pada kualitas dirinya sendiri, tidak langsung fungsinya  terhadap anak buahnya. Selain menyangkut kualitas dirinya, di bawah ini adalah persyaratan bahwa seorang pemimpin harus memiliki lima kemampuan yaitu </em>pager, marmer, angger, beubeur, liter<em>. Lima syarat kemampuan ini lebih kepada fungsi dan tanggungjawab soerang pemimpin kepada anak buahnya.  </em><span id="more-94"></span></p>
<p align="justify"><font color="#ffffff">a</font></p>
<p align="justify"><strong>1. Pager </strong><em>(Perlindungan)</em><br />
Syarat pertama seorang pemimpin adalah <em>pager</em>. <em>Pager </em>atau pagar adalah simbol batas sekaligus juga simbol perlindungan. Pagar rumah berarti batas rumah dan perlindungan rumah dari gangguan-gangguan luar. Pemimpin harus jadi menjadi pagar atau pelindung bagi anggotanya, masyarakatnya, rakyatnya. Pagar dari seorang pemimpin adalah keberaniannya, kekuatannya dan rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Pemimpin harus bisa mengayomi, menjaga dan melindungi anggota dan anak buahnya dari apa saja yang mengganggu, merugikan dan mencelakakan. Banyak pemimpin tidak melaksanakan fungsi <em>pager</em> ini. Bila seorang calon pemimpin tidak mampu berfungsi sebagai pagar seharusnya jangan dipilih, dan bila pemimpin yang sudah terpilih tidak mampu berfungsi sebagai pagar, ya mundur saja sebagai pemimpin daripada jama’ah atau anak buahnya tidak aman, tidak nyaman dan tidak mendapat perlindungan.</p>
<p align="justify"><strong>2. Marmer </strong><em>(Modal)</em><br />
Syarat kedua seorang pemimpin adalah <em>marmer</em>. <em>Marmer</em> adalah bahan baku bangunan yang mahal. <em>Marmer</em> adalah simbol kemewahan. <em>Marmer</em> pada pemimpin adalah modal yang kuat, kekayaan, wibawa, kharisma, pengaruh, penampilan yang meyakinkan dan sebagainya. Agar berwibawa dan dihormati, pemimpin harus memiliki itu semua. Tentang bahwa pemimpin harus sederhana, kesederhanaan itu pada sikap mentalnya bukan pada kenyataannya. Kenyataannya harus kaya, tapi sikap mentalnya harus tetap sederhana, baru itu benar. Kalau pemimpin tidak memiliki modal kuat, tidak kaya, akan berpengaruh kepada kewibawaannya, jadi kurang berwibawa dan kurang dihormati. Nabi Muhammad SAW itu bukan miskin, justru sebaliknya, sangat kaya tapi dengan sikap mentalnya yang kaya juga. Karena kekayaan sikap mentalnya itulah, dengan mudah beliau mengendalikan nafsu kekayaan materialnya dengan tidak ingin memilikinya selain sekadar keperluannya. Beliau pernah mengatakan bahwa kalau mau, beliau bisa berdo’a kepada Allah SWT merubah gunung jadi emas, tapi tidak beliau lakukan. Kata beliau, buat apa? Kemudian, beliau juga pernah ditawari kekayaan yang berlimpah oleh para kafir Quraisy dengan catatan agar menghentikan dakwah Islamnya. Itu pun beliau tolak. Mengapa Rasulullah s.a.w SAW mampu menolak tawaran-tawaran kekayaan sebagai suap kepadanya? Karena beliau sendiri sudah sangat kaya. Beliau sangat dekat dengan pemilik kekayaan langit dan bumi. Kalau mau tinggal minta kepada Allah SWT, apa saja, pasti dikabulkan. Tapi tidak beliau lakukan karena mental kayanya itu. Dalam pengertian, kekayaan yang ditawarkan manusia itu kecil sekali bila dibandingkan dengan kakayaan yang dimiliki Nabi yang tinggal diminta kepada Allah SWT itu.</p>
<p align="justify"><strong>3. Angger</strong> <em>(Konsisten)</em><br />
<em>Angger</em> artinya tetap. <em>Angger</em> adalah simbol konsistensi. Pemimpin itu harus konsisten, teguh pendirian, tetap dalam prinsip dan tidak berubah-rubah. Pemimpin yang tidak konsisten apalagi tidak memiliki prinsip adalah pemimpin yang buruk bahkan tidak pantas jadi pemimpin. Konsistensi akan membuat pemimpin dihormati, dihargai dan tidak sembarangan orang memperlakukannya.</p>
<p align="justify"><strong>4. Beubeur</strong> <em>(Mengikat)</em><br />
<em>Beubeur</em> adalah ikat pinggang. Ini adalah simbol ikatan. Pemimpin harus bisa mengikat bawahannya dengan aturan, pembagian tugas, tata tertib, kepantasan, penempatan orang dan lain-lain dengan tepat dan benar. Dalam rangka ini, pemimpin harus menguasai aturan, menjalankan aturan dan mencontohkan sikap konsisten terhadap aturan, baru kemudian menerapkannya kepada anak buah. Bila tidak ada aturan yang mengikat, apalagi dan pemimpin tidak mencontohkannya, jama’ah atau organisasi akan kacau, berantakan dan bubar.</p>
<p align="justify"><strong>5. Liter</strong> <em>(Mensejahterakan)</em><br />
Terakhir, pemimpin harus memiliki <em>liter</em>. <em>Liter </em>adalah simbol jaminan kesejahteraan. Pemimpin harus mensejahterakan rakyatnya, jama’ahnya, memperhatikan kebutuhannya, mendermakan rizki pada bawahannya. Bila hanya aturan, perintah dan pekerjaan yang diperintahkan tidak akan membawa hasil yang maksimal bila kesejahteraan jama’ah tidak diperhatikan, jika kemakmuran rakyat tidak diperjuangkan. Maka, <em>liter</em> adalah syarat kemampuan pemimpin yang harus dimiliki. Ia harus konsern dengan perut atau kebutuhan dasar jama’ahnya, rakyatnya. Bahkan, <em>liter </em>ini adalah bisa menjadi basis dari yang lain-lainnya bila, kebetulan, kondisi jama’ahnya kekurangan secara ekonomi. Pemimpin yang baik dan sukses adalah pemimpin yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syaghafan.wordpress.com/94/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syaghafan.wordpress.com/94/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=94&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/15/syarat-kemampuan-seorang-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prioritas Spiritual Kualitas Sebuah Gagasan</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/15/prioritas-spiritual-kualitas-sebuah-gagasan/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/15/prioritas-spiritual-kualitas-sebuah-gagasan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Dec 2007 12:06:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Gagasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/15/prioritas-spiritual-kualitas-sebuah-gagasan/</guid>
		<description><![CDATA[Individu, kelompok, lembaga, organisasi, perusahaan, masyarakat, negara atau komunitas apapun membutuhkan gagasan-gagasan yang bagus, segar dan cemerlang untuk kemajuan. Bila kita menggagas sesuatu untuk diri sendiri atau untuk orang lain, lembaga, perusahaan, masyarakat, buatlah gagasan yang berkualitas, berbobot, aplikabel serta bermanfaat. Dalam komunitas Muslim, gagasan yang bagus seharusnya berdimensi Tuhan, bermuatan kesadaran agama, berdimensi ukhrawi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=93&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Individu, kelompok, lembaga, organisasi, perusahaan, masyarakat, negara atau komunitas apapun membutuhkan gagasan-gagasan yang bagus, segar dan cemerlang untuk kemajuan. Bila kita menggagas sesuatu untuk diri sendiri atau untuk orang lain, lembaga, perusahaan, masyarakat, buatlah gagasan yang berkualitas, berbobot, aplikabel serta bermanfaat. Dalam komunitas Muslim, gagasan yang bagus seharusnya berdimensi Tuhan, bermuatan kesadaran agama, berdimensi ukhrawi, tidak hanya untuk kemajuan duniawi saja. Sebuah gagasan bisa disebut bagus dan berkualitas menurut perspektif Islam, bila mengandung lima unsur dasar seperti diuraikan berikut ini.</em><span id="more-93"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>1. Mudah Dikerjakan</strong><br />
Yang pertama, gagasan itu harus mudah dikerjakan. Gagasan yang canggih, menarik dan penting tetapi bila sulit dikerjakannya menjadi tidak ada nilainya, bahkan mungkin tidak bermanfaat (useless). Orang yang bijaksana tidak membuat gagasan-gagasan yang tampaknya hebat dan canggih tetapi sulit diterapkan, orang bijaksana justru memperhatikan kemudahannya untuk dikerjakan.</p>
<p align="justify"><strong>2. Menawan Dikenakan</strong><br />
Yang kedua, patut diperhatikan adalah gagasan itu menawan dikenakan. Sebuah gagasan yang bagus, setelah mudah dikerjakan adalah tepat, pas dan menawan ketika diterapkan pada masalah yang sedang dihadapi. Menawan dikenakan itu adalah gabungan atau akumulasi dari teorinya yang pas, metodanya yang akurat, timing-nya yang tepat, kemampuan yang ada, fasilitas yang tersedia dan seterusnya. Jadi, sebuah gagasan yang bagus, bukan hanya ide an sich tetapi juga dengan seluruh kesiapan aplikasinya yang memungkinkan.</p>
<p align="justify"><strong>3. Ringan Pembiayaan</strong><br />
Ketiga, selain mudah dikerjakan dan menawan diterapkan, gagasan yang bagus juga bisa diterapkan dengan ringan pembiayaan. Ini adalah perhitungan aspek ekonomis dan penghematan. Gagasan yang bagus dan canggih tetapi biayanya mahal menjadi berkurang nilainya, mungkin tidak aplikabel dan akhirnya tidak bermanfaat karena ketidaksiapan biaya. Dalam urusan apapun biaya merupakan aspek yang harus diperhitungkan agar gagasan bisa terpakai, bisa diterapkan dan bermanfaat. Pikirkanlah spending dananya yang ringan, murah, tentu tanpa mengorbankan aspek kualitas. Gagasan yang mahal belum tentu bagus, belum tentu bermanfaat. Gagasan yang bagus juga tidak diukur oleh mahalnya biaya, tetapi oleh kemampuannya diterapkan di lapangan.</p>
<p align="justify"><strong>4. Tak Ada yang Dirugikan</strong><br />
Keempat, usahakan juga gagasan yang kita kemukakan, agar maslahat, agar bermanfaat, agar diterima semua pihak, dan agar menguntungkan semua orang dan bernilai ibadah, tidak ada orang lain yang dirugikan. Banyak gagasan yang bagus, menarik dan penting, dan gagasan itu telah diwujudkan, tetapi merugikan sebagian atau orang banyak. Bila itu terjadi, gagasan itu malah jadi bencana karena ada orang yang dirugikan, disakiti hatinya, dihancurkan kehidupannya dan seterusnya sehingga malah mengundang azab Tuhan. Gagasan-gagasan pembangunan di kota-kota di Indonesia, demi kerapihan dan indahnya kota, demi kemajuan bangsa dan negara, demi kemajuan ekonomi dan akhirnya demi semakin kokohnya kapitalisme, banyak yang merugikan orang banyak, rakyat kecil, kaum miskin dan sejenisnya.<br />
Ada pameo yang mungkin biasa pada para pengambil kebijakan atau pelaksana pembangunan: “Yaa… demi kemajuan (atau demi itu, demi ini), terpaksa mesti ada korban.” Ini adalah pikiran politisi yang tidak bermoral, pikiran penguasa kejam demi langgengnya kekuasaan, pikiran pengusaha yang tidak punya hati yang hanya ingin mengeruk keuntungan. Bila kita membiasakan dan melegalkan cara berfikir seperti ini, hati kita akan mati dan menjadi terbiasa berbuat bengis dan kejam pada orang lain. Posisi, jabatan dan kekuasaan yang kita miliki, yang banyak memakan korban tak berdosa, pasti akan menghancurkan kita di dunia atau di akhirat. Kita akan menjadi penjahat yang tak bernurani karena gagasan-gagasan kita merugikan dan mengorbankan banyak orang. Bisa jadi di dunia dia selamat, karena punya uang dan kekuasaan, tapi di akhirat? Siapa yang bisa melindunginya?  Penguasa dan pengusaha –disadari atau tidak– adalah dua kelompok manusia yang gagasannya sangat riskan, rentan atau sering, merugikan orang lain. Maka, berhati-hatilah, menjadi dua kelompok manusia tersebut. Perhatikanlah, agar gagasan itu tidak merugikan siapapun.</p>
<p align="justify"><strong>5. Bisa Dipertanggungjawabkan di Hadapan Tuhan</strong><br />
Terakhir, sebuah gagasan yang bagus, setelah memenuhi keempat unsur diatas, adalah harus bisa dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Ini adalah aspek moral dan agama dari sebuah ide dan gagasan. Sebuah gagasan, walaupun sudah memenuhi empat kriteria di atas, belum tentu bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Bisa jadi, sebuah gagasan mudah dikerjakan, menawan diterapkan, ringan pembiayaan dan tidak ada orang yang dirugikan, tetapi tidak bisa dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan karena gagasan itu bertentangan dengan syariat agama, bertolak belakang dengan akhlak dan moral kemanusiaan, menyakiti banyak orang dan seterusnya. Jadi, gagasan yang bagus, bermanfaat dan maslahat, secara esensi dan pelaksanaannya tidak boleh melanggar syariat agama, sebab semua perbuatan kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak dihadapan Allah Yang Maha Berkuasa, Tuhan yang merajai kehidupan manusia, dan dihadapan-Nya kelak kita tidak akan berkutik.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syaghafan.wordpress.com/93/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syaghafan.wordpress.com/93/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=93&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/15/prioritas-spiritual-kualitas-sebuah-gagasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ciri-ciri Orang yang Tidak Bisa Diajak Dialog</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/ciri-ciri-orang-yang-tidak-bisa-diajak-dialog/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/ciri-ciri-orang-yang-tidak-bisa-diajak-dialog/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 11:05:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Dialog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/ciri-ciri-orang-yang-tidak-bisa-diajak-dialog/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan, dialog itu penting untuk mencari persamaan pandangan, untuk mencari saling pengertian dan memecahkan masalah. Tetapi, ada sekelompok orang yang tidak bisa diajak dialog sama sekali. Mereka itu adalah orang yang bebal fikirannya atau selalu memutlakkan pendapatnya. Dialog dengan mereka akan macet, tidak ada pertukaran fikiran, tidak ada manfaatnya dan sia-sia. Menghindari perbuatan sia-sia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=88&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Dalam kehidupan, dialog itu penting untuk mencari persamaan pandangan, untuk mencari saling pengertian dan memecahkan masalah. Tetapi, ada sekelompok orang yang tidak bisa diajak dialog sama sekali. Mereka itu adalah orang yang bebal fikirannya atau selalu memutlakkan pendapatnya. Dialog dengan mereka akan macet, tidak ada pertukaran fikiran, tidak ada manfaatnya dan sia-sia. Menghindari perbuatan sia-sia adalah nasihat agama. Orang seperti ini ada ciri-ciri yaitu: vonis, sinis, sadis, bombastis dan bau amis.</em><span id="more-88"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>1. Vonis</strong><br />
Vonis adalah sikap dan pembicaraan yang selalu menghukumi atau memvonis orang: menghukumi pandangan, pikiran dan pendapat orang lain, juga menghukumi situasi dengan ukuran kebenaran yang terbatas yang ada pada dirinya. Ketika dialog, orang itu kesukaannya memvonis saja. Walaupun yang divonis adalah pendapat, pandangan dan fikiran tetapi nuansa dan arahnya bersifat pribadi. Menghukumi pendapat orang tapi akibat yang dirasakannya pribadi. Vonis-vonis seperti mengatakan seseorang “kafir,” “musyrik,” “murtad,” “amalnya tidak diterima,” “ini sah,” “itu tidak sah” dan sebagainya. Penghukuman terhadap pribadi orang, bahwa pribadi orang itu salah, kafir, musyrik, murtad dan sebagainya adalah bukan bahasa dialog. Main vonis adalah buruk karena bukan hak manusia sebagai hamba untuk melakukannya. Ungkapan-ungkapan vonis pada situasi misalnya, ada kasus kecelakaan di jalan raya disebabkan kemacetan. Kebetulan saat itu sedang ada rombongan presiden lewat. Lalu, ada orang yang mengutarakan berpendapatnya: “Ini gara-gara presiden lewat, jadi tuh lihat ada kecelakaan!” Ini ungkapan vonis, karena belum ada hubungannya. Atau ungkapan yang lebih teratur: “Saya kira para`pejabat itu harus meninjau ulang kedatangannya ke jalan raya, karena ternyata kedatangannya itu menelan korban.” Ini ungkapan vonis. Dia tidak tahu menahu persoalannya, kemudian dengan mudah memvonis situasi, bahwa orang lain berdosa telah menimbulkan korban. Padahal, apa hubungan rombongan presiden atau pejabat lewat dengan kecelakaan seseorang? Mungkin tidak ada hubungannya sama sekali. Ini sekadar contoh berfikir vonis. Contoh lain, misalnya ada ustadz ditanya soal pahala shalat, dia menjawab, “Yaa shalat seperti itu sah, tapi tidak mendapat pahala.” Atau, “Amal seperti itu jelas-jelas tidak akan diterima oleh Allah.” Tahu dari mana ustadz itu soal urusan pahala atau diterima tidaknya sebuah amal? Seolah-olah dialah yang membagikan pahala dari Allah SWT kepada manusia. Bila orang terbiasa mengungkapkan vonis apalagi yakin bahwa vonisnya benar, sudah, orang itu tidak bisa dan tidak perlu diajak dialog. Tinggalkan saja.</p>
<p align="justify"><strong>2. Sinis</strong><br />
Bila vonis adalah penyerangan pada pribadi, maka sinis adalah penyerangan pada fungsi, hak dan status orang. Sinis adalah fungi dan hak orang diabaikan, kemudian kita bersikap sinis untuk membenarkan apa yang kita lakukan. Sikap sinis ini dilakukan di depan atau di belakang. Dalam ungkapan sinis, yang dikomentarinya adalah fungsinya, statusnya, penampilannya, fisiknya. Dengan kata lain, yang diperhatikan aspek luarnya, bukan isi argumennya. Contoh ungkapan sinis, ada orang bertanya kepada seorang ustadz dalam sebuah pengajian. Orang itu meminta komentar sang ustadz tentang penampilan seorang da’i kondang di Bandung: “Kalau tidak bisa bahasa Arab dan menguasai kitab ya bukan kiayi. Dia kan hanya mengajarkan tatakrama saja. Dalam berdakwah juga, pakaian itu kan yaa… biasa saja tidak usah berpenampilan seperti Pangeran Dipenogoro begitu. Itukan tidak ada keharusannya.” Ini ungkapan sinis yang datang dari kedengkian. Ada juga ustadz fiqh yang mengomentari fenomena dzikir bersama dengan ungkapan, “Dzikir kok rame-rame begitu, apalagi yang memimpinnya ustadznya tukang memindahkan penyakit kepada binatang itu kan? Dzikir sih biasa-biasa saja tidak perlu rame-rame begitu, kecuali ingin terkenal.” Ini adalah ungkapan sinis. Dialog dengan orang seperti ini hanya akan membuang-buang waktu, karenanya tidak perlu.</p>
<p align="justify"><strong>3. Sadis</strong><br />
Sadis adalah sikap menyerang orang berdasarkan selera dirinya, bukan kebenaran. Ungkapan melukai dan menyinggung orang lain dengan klaim-klaim yang menyalahkan secara mutlak. Orang lain sudah tidak ada lagi kebaikannya sama sekali dan mutlak kesalahannya, lalu dihukumi secara sadis. Misalnya, ungkapan, “Tokoh pembaru Islam di Indonesia itu kan belajarnya di Amerika. Dengan demikian, jelas bahwa dia tidak dipisahkan dari yahudi zionis, karena belajarnya saja di sarang orientalis.” Ini contoh ungkapan sadis. Atau, “orang Kristen itu pasti masuk neraka. Mereka kan orang kafir.” Atau, “orang non-Islam pasti masuk neraka semua, mereka itu kafir kepada Allah SWT.” Omongan ini sadis dan tanpa ilmu. Selain ungkapannya belum tentu benar, karena itu urusan Allah, juga menyakiti kelompok lain secara tidak perlu. Kemudian, bila pun benar ada keterangan Al-Qur&#8217;an yang berbunyi begitu, tapi apa kepentingannya dan manfaatnya kita sebagai Muslim berbicara begitu? Bukankah itu ungkapan yang tidak ramah pada sesama manusia? Tugas kita sebagai Muslim bukan untuk menilai-nilai seperti itu. Yang benar, ajak mereka kepada keyakinan Islam dengan cara yang baik. Memvonis secara sadis seperti itu adalah hak Tuhan sepenuhnya, bukan urusan manusia. Tugas kita adalah menjelaskan kebenaran yang kita miliki bukan memvonis-vonis secara sadis. Orang yang ungkapannya selalu sadis seperti ini tidak perlu diajak dialog karena tidak ada manfaatnya.</p>
<p align="justify"><strong>4. Bombastis</strong><br />
Bombastis adalah sikap kebaikan palsu, atau kebaikan yang semu. Orang seperti mengungkapkan kebaikan tetapi sebenarnya palsu dan semu, tidak asli, tidak sesungguhnya. Tujuannya, hanya untuk membuat orang lain senang saja. Bombastis juga adalah menyerang orang selintas-selintas, kadang-kadang. Misalnya, ada orang maju diserang, sudah menyerang berhenti. Ada orang terkenal dan disukai banyak orang, disindir-sindir secara sentimen. Itu juga adalah sikap bombastis. Mendukung kebaikan tanpa argumen juga adalah sikap bombastis. Orang yang ucapannya bombastis tidak bisa diajak dialog karena kepalsuan-kepalsuan yang ada pada dirinya. Orang bombastis lebih konsern pada usaha menyenangkan orang secara palsu untuk mendapat pujian, daripada usaha untuk mencari kebenaran.</p>
<p align="justify"><strong>5. Bau Amis</strong><br />
Bau amis adalah mulutnya, komentarnya, ucapannya selalu tidak enak didengar, karena tidak nyambung, bau amis seperti ikan mentah. Komentarnya selalu menyudutkan orang, ucapannya selalu membuat orang tersinggung. Orang seperti ini mulutnya bau amis. Orang seperti tidak perlu diajak dialog, hanya buang-buang waktu, karena tidak bisa diajak berfikir benar, tidak bisa rasional dan tidak bisa berargumen yang baik.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syaghafan.wordpress.com/88/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syaghafan.wordpress.com/88/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=88&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/ciri-ciri-orang-yang-tidak-bisa-diajak-dialog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prioritas Spiritual Perilaku Korupsi</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/prioritas-spiritual-perilaku-korupsi/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/prioritas-spiritual-perilaku-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 10:37:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Perilaki Korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/prioritas-spiritual-perilaku-korupsi/</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa ini sudah sangat parah dalam perilaku korupsi. Sudah sangat memalukan karena sudah menjadi budaya bangsa bertahun-tahun lamanya, sudah mengakar, mengurat dan mendaging sehingga sangat susah untuk diberantas. Sudah sangat banyak pembahasan dan teori tentang korupsi dan bagaimana menghilangkannya. Di bawah ini adalah uraian tentang prioritas spiritual perilaku korupsi. Dalam kitab ini dijelaskan, ada lima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=87&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Bangsa ini sudah sangat parah dalam perilaku korupsi. Sudah sangat memalukan karena sudah menjadi budaya bangsa bertahun-tahun lamanya, sudah mengakar, mengurat dan mendaging sehingga sangat susah untuk diberantas. Sudah sangat banyak pembahasan dan teori tentang korupsi dan bagaimana menghilangkannya. Di bawah ini adalah uraian tentang prioritas spiritual perilaku korupsi. Dalam kitab ini dijelaskan, ada lima jalan dimana orang berkesempatan melakukan korupsi.</em><span id="more-87"></span><em> Dengan uraian tentang jalan korupsi, mudah-mudahan memperjelas tentang sosok perilaku korupsi dan membuka jalan sedikit demi sedikit untuk penanggulangannya yang serius yang bisa dilakukan oleh lembaga atau pemerintah.</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>1. Corruption by Need</strong><br />
<em>Corruption by Need</em> adalah jenis perilaku korupsi yang dilakukan karena kebutuhan, karena terpaksa, karena lingkungan yang kita tidak bisa menghindar. Yang dikorupsi pun hanya untuk pemenuhan kebutuhan dasar hidup, bukan mencari lebih, mencari kekayaan apalagi menumpuk harta. Korupsi karena kebutuhan adalah korupsi tingkat wajar. Hampir semua orang yang bekerja di kantor, instansi, organisasi dan sebagainya umumnya pernah melakukan atau tak terhindarkan dari korupsi jenis ini. Misalnya memakai fasilitas kantor untuk urusan pribadi seperti telepon, komputer, faksimili, kendaraan dinas, menggunakan barang kantor di rumah dst, atau bolos ngantor, guru/dosen tidak masuk kelas, menerima pemberian padahal bukan haknya dst. Guru terpaksa memakai uang sekolah untuk membayar kredit rumah yang nunggak dst. Semuanya termasuk <em>corruption by need.</em> Korupsi karena kebutuhan. Korupsi ini adalah jenis yang paling ringan, yang dimaklumi.</p>
<p align="justify"><strong>2. Corruption by Gate</strong><br />
Kedua, <em>corruption by gate</em> yaitu korupsi yang dilakukan karena “pintu gerbang <em>(gate)</em> yang terbuka.” Maksudnya, korupsi yang dilakukan karena terbukanya kesempatan, adanya situasi yang memungkinkan, kondisi yang seperti mempersilahkan, bahkan menghruskan, padahal sebelumnya tidak punya niat sama sekali. Seorang karyawan atau pejabat mungkin pada awalnya tidak berniat melakukan korupsi, tetapi setelah sekian lama bekerja dalam sebuah instansi, muncul kesempatan-kesempatan yang mengundangnya untuk berbuat penyelewengan, mark up, pemotongan-pemotongan ilegal dst. Misalnya, di sebuah kantor, seseorang tiba-tiba disodorkan kwitansi untuk ditandatangani sebagai jatah proyek. Ia menjadi serba salah, diambil itu uang “siluman,” tidak diambil akan hilang dan disikat orang lain sementara ia juga membutuhkannya. Akhirnya diambil juga. Korupsi ini terjadi karena lemahnya manajemen, administrasi, pengawasan, kontrol, aturan yang tidak jalan, hukum yang lemah dst.</p>
<p align="justify"><strong>3. Corruption by Lead</strong><br />
Ketiga, <em>corruption by lead</em> (korupsi yang dilakukan karena kepemimpinan). Korupsi ini paling umum dilakukan. Korupsi ini bukan hanya datang kepada seseorang sebagai pemimpin, tetapi dia memang menciptakan situasi untuk melakukan penyimpangan dengan cara merekayasa laporan, menyelewengkan anggaran, membuat <em>mark-up</em>, memotong hak orang dan seterusnya yang perbuatannya itu didukung dan ditunjang oleh posisinya sebagai pemimpin. Mayoritas pemimpin lembaga/organisasi di negeri ini, dari yang terendah sampai tertinggi, dari tingkat desa sampai negara –kecuali yang benar-benar bersih dan terpelihara moral/akhlaknya— ditengarai pernah melakukan <em>corruption by lead</em>. Persoalannya, ada yang ditemukan ada yang tidak, ada yang diungkap ada yang tidak, ada yang buktinya ditemukan atau tidak dan seterusnya. Di wilayah korupsi ini, mereka yang bertugas melakukan pengawasan dan kontrol terhadap kepemimpinan (oknum-oknum antar departemen) bahkan sering bekerjasama untuk melancarkan dan memuluskan praktek korupsi selama masing-masing pihak saling memaklumi, saling mengamankan, tidak saling mengutik dan masing-masing kebagian.</p>
<p align="justify"><strong>4. Corruption by Read</strong><br />
Keempat, <em>corruption by read</em>. Korupsi yang dilakukan karena membaca <em>(read)</em> orang lain melakukannya, melihat situasinya, melihat resikonya aman, mengamati orang lain melakukan juga tidak ketahuan, tidak dihukum dst. Kemudian, terdoronglah ia untuk melakukan hal yang sama. Jenis korupsi ini adalah dampak dari lemahnya kontrol dan hukum. Orang membaca baca situasi dan dikondisikan oleh situasi untuk berbuat korupsi karena memang yang lain juga cepat kaya, tidak tidak ketahuan dan tidak dihukum.</p>
<p align="justify"><strong>5. Corruption by Meat</strong><br />
Terakhir adalah <em>corruption by meat</em> yaitu korupsi karena rakus, terbiasa makan daging/hak orang. Korupsi jenis ini paling kotor, paling berbahaya, susah diperbaiki karena sudah menjadi mental. Korupsi ini diniatkan, direncanakan dan dilakukan dengan berbagai cara agar menjadi kaya dan bergelimang harta kekayaan. Ketika terpilih menjadi pimpinan dan pejabat, yang dihayati bukan bagaimana melaksanakan tugas dan tanggung jawab tetapi sarana untuk meningkatkan kekayaan, membangun citra bahwa dia adalah pejabat yang sukses dengan sukses materi yang mencolok. Ukuran sukses yang ditunjukkan adalah rumah mewah, barang-barang mahal, mobil yang lux dan seterusnya. Konsern dan komitmen pada etika, moral dan akhlak rendah. Ia mungkin menjalankan agama tapi tak lebih dari sekadar ritual minimal. Dalam fikirannya hanya uang dan materi. Untuk memperoleh kekayaan kalau perlu memakan “daging” <em>(meat)</em> orang lain. Ini adalah bentuk korupsi yang paling jahat, rakus dan harus dihukum seberat-beratnya.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syaghafan.wordpress.com/87/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syaghafan.wordpress.com/87/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/87/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/87/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/87/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=87&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/prioritas-spiritual-perilaku-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mata Air Bening Nilai-nilai Syahadat</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/mata-air-bening-nilai-nilai-syahadat/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/mata-air-bening-nilai-nilai-syahadat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2007 10:16:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Syahadat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/mata-air-bening-nilai-nilai-syahadat/</guid>
		<description><![CDATA[Syahadat adalah kesaksian tentang keesaan Allah SWT dan pengakuan Allah sebagai Tuhan. Kesaksian ini ada konsekuensinya yang harus dibuktikan dalam kehidupan. Setiap Muslim akan diminta pertangungjawabannya di akhirat kelak tentang pengakuan syahadatnya. Banyak Muslim tidak menyadari bahwa dalam sikap dan tindakannya sehari-hari banyak yang tidak sesuai dengan syahadatnya, tidak sesuai dengan kesaksian tauhidnya. Keimanannya terkotori [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=86&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Syahadat adalah kesaksian tentang keesaan Allah SWT dan pengakuan Allah sebagai Tuhan. Kesaksian ini ada konsekuensinya yang harus dibuktikan dalam kehidupan. Setiap Muslim akan diminta pertangungjawabannya di akhirat kelak tentang pengakuan syahadatnya. Banyak Muslim tidak menyadari bahwa dalam sikap dan tindakannya sehari-hari banyak yang tidak sesuai dengan syahadatnya, tidak sesuai dengan kesaksian tauhidnya. Keimanannya terkotori oleh sifat-sifat riya, ujub dan kesombongan fikirannya. Berikut ini adalah rumus nasihat dalam rangka bersyahadat yang benar, bertauhid yang lurus, sebagai refleksi dari pengakuan keimanan kita kepada Allah. </em><span id="more-86"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>1. Karena-Nya</strong><br />
&#8220;Karena-Nya&#8221; adalah melakukan segala sesuatu karena Allah SWT, tidak karena yang lain. Ini adalah basis dalam melakukan segala amal ibadah, dasar dalam bertauhid. Apa pun yang dilakukan oleh seorang Muslim harus selalu dalam rangka karena Allah. Hidup diniatkan karena Allah, usaha karena Allah, berbuat sesuatu karena Allah, mencinta dan membenci karena Allah, mencari ilmu karena Allah, amal dan ibadah karena Allah, menolong dan membantu orang karena Allah. Misalnya tentang shalat, harus karena Allah: <em>“Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk”</em> (Al-Baqarah : 328). Menegakkan kebenaran karena Allah: <em>“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”</em> (Al-Maidah: 8). Tawakkal harus karena Allah : <em>“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mukmin bertawakal”</em> (Ali Imran: 122). Karena segala sesuatu dilakukan karena Allah, maka bila kita berbuat baik misalnya dan kebaikan kita tidak mendapatkan respon yang simpatik dari orang yang bersangkutan, tidak berbalas kebaikan, kita tidak perduli, tidak ambil pusing, tidak dipikirkan, biarkan saja, karena apa yang kita lakukan bukan karena dia tapi karena Allah. Inilah sikap bersyahadat yang benar. Tauhid yang lurus. Segalanya karena Allah.</p>
<p align="justify"><strong>2. Untuk-Nya</strong><br />
Setelah &#8220;karena-Nya&#8221; sebagai basis atau dasar, kemudian harus dilanjutkan dengan &#8220;untuk-Nya&#8221; dalam melakukan segala sesuatu. Sebagai Muslim, segala sesuatu dilakukan dan dipersembahkan hanya untuk Allah. &#8220;Untuk-Nya&#8221; adalah menyangkut hasil kerja atau penilaian. Dalam melakukan segala sesuatu, lakukanlah dengan niat yang benar dan lurus, dengan sungguh-sungguh, dengan sebaik-baiknya dan maksimal. Hasilnya, serahkan kepada Allah SWT sepenuhnya, tawakkal, diterima atau tidak, terserah Allah SWT. Itu hak Allah SWT untuk menilainya. Kita beramal dan berbuat baik untuk Allah bukan untuk yang lain-lain. Tentang untuk Allah ini, jelas sekali Allah menegaskan bahwa segala ibadah adalah untuk Allah: <em>”Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam’” </em>(Al-An’am: 162). Ketaatan kita hanya untuk Allah: <em>“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim”</em> (Al-Baqarah : 193).</p>
<p align="justify"><strong>3. Didalam-Nya</strong><br />
&#8220;Didalam-Nya&#8221; adalah mengerjakan segala sesuatu di harus dalam aturan, kehendak dan ridha Allah, karena kita sudah bersaksi mengakui Allah sebagai Tuhan kita dan itu berarti kita akan taat kepada-Nya. Inilah makna syahadat dalam kehidupan. Melakukan sesuatu tidak boleh bertentangan dengan kehendak Allah atau syariat agama. Jadi harus &#8220;didalam-Nya&#8221; (proses yang dikehendaki Allah). Misalnya, mencari rezeki, mendapatkan uang, mendapatkan barang, mendapatkan jabatan dan lain-lain harus didapatkan dengan cara yang benar menurut ajaran agama, yang sesuai dengan syariat Islam. Mendapatkan rizki dan uang dengan cara tidak halal, berarti tidak &#8220;didalam-Nya,&#8221; berarti syahadatnya belum benar, berarti melanggar syahadatnya sendiri. Mendapatkan jabatan dengan cara kasak-kusuk, berjanji palsu, bagi-bagi jabatan pada pendukung (sementara yang lebih berkualitas, yang tepat dan proporsional diabaikan karena bukan kelompok), membagikan uang untuk dukungan <em>(money politics)</em>, memobilisasi masa agar dirinya terpilih, memprovokasi dan sebagainya, adalah sikap bukan &#8220;didalam-Nya.&#8221; Orang seperti ini syahadatnya belum benar. Ia melanggar syahadat, melanggar kesaksiannya sendiri di hadapan Allah SWT. Tauhidnya hanya dimulut, tidak dibuktikan dalam tindakan nyata. Mau menipu Allah? Adalah tidak logis, kita bertauhid, mengakui Allah sebagai Tuhan kita, kita iman kepada-Nya dan itu berarti kita akan taat, tapi melanggar aturan-Nya, melanggar syari’at agama. Ini sebuah penipuan di hadapan Allah. Berani mempertanggungjawabkannya di hadapan-Nya kelak?<br />
Tidak &#8220;didalam-Nya&#8221; juga adalah melakukan satu kewajiban agama dengan menghapus kewajiban yang lain. Jika kita melakukan itu, kita tidak berada di dalam kehendak Allah. Allah tidak menghendaki melakukan sebuah kewajiban dengan menghapus kewajiban yang lain. Seluruh kewajiban agama harus dilakukan satu persatu tanpa menggugurkan yang lain. Misalnya, mencari ilmu tapi meninggalkan shalat, kerja mencari nafkah tapi tidak puasa di bulan ramadhan, berbuat baik pada orang, bersikap ramah, tapi tidak menjalankan ibadah pokok, memberi nafkah kepada istri tapi sambil menyakitinya, dan seterusnya.</p>
<p align="justify"><strong>4. Segala-Nya</strong><br />
&#8220;Segala-Nya&#8221; adalah melakukan amal perbuatan, sejak dari niat, proses, cara dan hasil segalanya dalam aturan dan keridhaan Allah. Semuanya berdasar kepada Allah. Banyak orang beramal hanya sebagian-sebagian misalnya hanya &#8220;untuk-Nya&#8221; saja, atau &#8220;didalam-Nya&#8221; saja, &#8220;karena-Nya&#8221; saja. Ini tidak benar karena dasar atau keyakinan menjadi tidak sesuai dengan perbuatannya. Atau perbuatan atau sikap tidak nyambung dengan keyakinannya. Akibatnya, jadi masuk ke dalam kategori munafik, sebuah sikap yang dikutuk dalam agama.</p>
<p align="justify"><strong>5. Kepada-Nya</strong><br />
&#8220;Kepada-Nya&#8221; adalah menyangkut arah yaitu kepada Allah kita mengarahkan amal ibadah kita. Misalnya shalat. Keyakinan dan niatnya harus karena Allah SWT, cara dan proses harus sesuai dengan syariat Islam, dan arahnya juga harus menghadap kiblat. Menghadap kiblat ini adalah makna dari &#8220;kepada-Nya.&#8221; Shalat yang niat dan caranya benar tapi tidak menghadap kiblat, berarti hanya &#8220;karena-Nya&#8221; dan &#8220;didalam-Nya&#8221; tapi tidak &#8220;kepada-Nya.&#8221; Tauhidnya tidak lengkap, tidak utuh. Contoh lain, kita mau beramal sosial atau menyumbang sesuatu ke sebuah yayasan yatim piatu. Bila kita tidak memperdulikan yayasannya, misalnya apakah yayasannya Islam atau bukan, dianggap tidak penting karena kita berfikir sama saja, berarti amal kita tidak &#8220;kepada-Nya,&#8221; hanya &#8220;karena-Nya&#8221; saja. Ini adalah gambaran dari sikap tauhid tidak lurus, tidak utuh, keberpihakannya yang mengarah kepada Allah SWT kurang. Simbol-simbol agama disini dipertimbangkan dalam rangka yang lebih dekat mengarah kepada Allah. Shalat esensinya memang bisa mengarah kemana saja, Allah toh tidak mengenal ruang, tapi kalau kita tahu arah kiblat, apalagi shalat di masjid, apa-apaan kita sengaja menghadap ke arah lain? Bukan itu sebuah kebodohan yang tidak bisa dimengerti? Allah jelas-jelas memerintahkan agar kita bersujud ke arah kiblat di Masjidil Haram: <em>“… Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”</em> (Al-Baqarah : 144). <em>“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya… “</em> (Al-Baqarah : 148).<br />
Menyumbang dan berbuat kebajikan yang lain juga sama. Sebagai seorang Muslim, menyumbang ke yayasan sosial mana saja sama, amal-amal juga, tapi bila ada yayasan Islam, mengapa harus ke yang lain? Membantu fakir miskin, siapa saja, adalah amal mulia. Tapi bila ada fakir miskin yang disiplin shalatnya, rajin ibadahnya, kenapa tidak kita utamakan? Ibadah seperti akan lebih mengundang keridhaan Allah SWT. Sikap &#8220;kepada-Nya&#8221; adalah setelah kita memiliki niat baik, niat itu harus diwujudkan dalam proses, jalur, obyek, cara dan sebagainya yang lebih mengarah kepada Allah SWT.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syaghafan.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syaghafan.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=86&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/10/mata-air-bening-nilai-nilai-syahadat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Islam tentang Etika Bisnis</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/konsep-islam-tentang-etika-bisnis/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/konsep-islam-tentang-etika-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Dec 2007 12:28:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/konsep-islam-tentang-etika-bisnis/</guid>
		<description><![CDATA[Ajaran Islam lengkap mengatur berbagai kehidupan manusia termasuk tentang mencari nakah, usaha dan mengembangkan kehidupan ekonomi. Islam mengatur tentang kegiatan ekonomi yang dalam term modern disebut bisnis. Etika Islam tentang bisnis sudah ditulis oleh sebagian orang dalam buku-buku yang ada. Tapi, ajaran dan nasihat dibawah ini pasti berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya. Etika Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=85&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Ajaran Islam lengkap mengatur berbagai kehidupan manusia termasuk tentang mencari nakah, usaha dan mengembangkan kehidupan ekonomi. Islam mengatur tentang kegiatan ekonomi yang dalam term modern disebut bisnis. Etika Islam tentang bisnis sudah ditulis oleh sebagian orang dalam buku-buku yang ada. Tapi, ajaran dan nasihat dibawah ini pasti berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya. Etika Islam dalam bisnis itu ada lima: niat, syari’at, kaifiyat, hakikat, akhirat. Ini adalah pedoman dan nasihat penting bagi para pelaku bisnis Muslim di zaman modern yang ingin berbisnis secara Islami. Yang ingin bisnisnya bernilai ibadah, berkah dan diridhai Allah dan membawa kemajuan umat dan lingkungannya, tidak hanya perusahaannya saja. Nikmatilah penjelasannya dibawah ini.</em><span id="more-85"></span></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p align="justify"><strong>1. Niat</strong><br />
Dalam Islam, berbisnis harus dilakukan dengan etika yang benar dan lurus untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Ibadah itu tidak hanya ritual (mahdhah) saja, tetapi juga bisa dalam lapangan ekonomi. Bisnis dalam Islam harus dilandasi niat &#8211;selain meningkatkan ekonomi diri, keluarga dan perusahaan&#8211; juga dengan niat mengembangkan ekonomi umat, mensejahterakan kaum muslimin dan ujung-ujungnya adalah mencapai ridha Allah SWT. Ridha Allah SWT ini harus menjadi kata kunci dalam bisnis. Bila ridha Allah SWT tidak diperhatikan dan tidak dipentingkan, berbisnis hanya akan memenuhi hawa nafsu dengan memperkaya diri dan perusahaan. Dalam Islam, niat bisnis tidak dibenarkan hanya untuk memperbesar modal semata atau memperkaya perusahaan semata, hanya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, membangun konglomerasi dst. Itu adalah konsep bisnis kapitalisme. Bisnis seperti itu terlepas dari nilai-nilai agama, nilai-nilai ruhani dan lupa kepada Allah SWT dan kepada akhirat sebagai masa depan kita yang akan kita jalani. Apa artinya bisnis dan sukes di dunia kalau celaka, sengsara dan menderita di akhirat? Padahal hari akhirat itu adalah masa depan yang pasti yang akan kita lalui dimana kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di dunia. ‘Masa depan’ selalu merupakan ‘keyword’ (kata kunci) dalam bisnis. Perusahaan-perusahaan besar atau bisnis-bisnis yang maju selalu memiliki konsep dan strategi bagaimana menjemput masa depan. Adalah aneh, bila tentang ‘masa depan’ yang sangat pendek yaitu kehidupan di dunia ini, sangat diperhatikan dan dikejar-kejar, tetapi masa depan sejati, masa depan yang lebih panjang tidak diperhatikan dan diabaikan. Inilah kelemahan bisnis sekuler, bisnis duniawi. Bisnis dalam Islam adalah bisnis dengan strategi masa depan yang tidak terbatas, jauh menembus kehidupan pasca dunia untuk keselamatan abadi.</p>
<p align="justify"><strong>2. Syari&#8217;at</strong><br />
Etika bisnis kedua dalam Islam adalah praktek bisnis harus berdasarkan syari’at atau tidak melanggar ketentuan syariat agama. Berbisnis tidak boleh sambil melanggar ajaran syari&#8217;at Islam. Ketentuan syari’at baik dalam modal, strategi, proses atau praktek, cara, jenis produksi, pemasaran dan seterusnya. Islam memiliki perangkat syari’at yaitu norma agama dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam usaha dan bisnis. Norma agama dalam bisnis misalnya, jujur, tidak ada penipuan, transparan, tidak menimbun kekayaan, tidak memperkaya diri sendiri saja, membayar zakat, ada semangat menolong orang kecil dan seterusnya. Bank mu’amalah dan bank syari’ah yang kini banyak menjamur adalah upaya dan contoh berbisnis berlandaskan syari’at Islam. Setelah dijalankan, ternyata bukan mustahil bank Islam yang berdasarkan syari’at  agama bisa bersaing dengan bank konvensional kapitalistik yang sudah meraksasa.</p>
<p align="justify"><strong>3. Kaifiyat</strong><br />
Etika selanjutnya adalah, berbisnis dilakukan dengan menggunakan <em>kaifiyat</em> (cara-cara dan praktek) Islami. <em>Kaifiyat</em> ini adanya di proses yaitu memperhatikan prinsip-prinsipnya yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w SAW. Misalnya, tidak mengurangi timbangan, tidak bertransaksi atau memperjualbelikan barang yang samar-samar, barang haram, tidak menghalalkan segala cara, tidak melakukan praktek sogok menyogok, praktek penipuan dst. Inti <em>kaifiyat</em> bisnis dalam Islam adalah adanya ijab qabul yang jelas dan tidak merugikan satu pihak, kejujuran, kerelaan, kejelasan dst.</p>
<p align="justify"><strong>4. Hakikat</strong><br />
Dalam Islam harus dipertimbangkan juga tentang hakekat bisnis. Berbeda dengan sistem kapitalisme, dimana hakikat bisnis adalah mengembangkan modal dan menciptakan kemakmuran ekonomi perusahaan. Dalam Islam, hakikat bisnis adalah ibadah kepada Allah melalui pengembangan ekonomi. Bila pemahaman hakikat bisnis ini keliru, atau hakikat ini tidak ditekankan, maka proses dan praktek bisnis bisa keliru dan salah kaprah. Penegasan hakikat bisnis dalam Islam juga dimaksudkan sebagai kontrol, menjaga agar praktek bisnis tidak salah kaprah, salah cara dan salah tujuan. Dalam Islam, segala aktifitas kehidupan harus diarahkan dalam rangka ibadah dan penyembahan kepada Allah karena Allah sendiri sudah menegaskan bahwa <em>&#8220;wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun&#8221;</em> (tidak semata-mata aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku). Maka bisnis pun adalah dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.</p>
<p align="justify"><strong>5. Akhirat</strong><br />
Terakhir, tidak boleh dilupakan bahwa berbisnis tujuan akhirnya adalah untuk kepentingan akhirat. Bila kepentingan akhirat ini tidak diperhatikan maka bisnis bisa terjebak ke dalam kerakusan dunia (harta, materi dan kekayaan). Orientasi akhirat ini harus ditekankan, bahwa segala urusan kita di dunia ini akan ditanya dan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah rabbul ‘alamin. Bila kepentingan akhirat ini ditekankan, maka tidak akan terjadi kecurangan dan kerakusan. Kecurangan, kerakusan dan kejahatan dalam bisnis selama ini terjadi karena para pelakunya melupakan akhirat, akhirnya menghalalkan segala cara seolah tidak dipertanggungjawabankan di akhirat kelak. Tahunya hanya bagaimana menjadi kaya dan menumpuk kekayaan sebanyak-banyak sehingga lupa kepada kematian yang akan menjemputnya.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syaghafan.wordpress.com/85/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syaghafan.wordpress.com/85/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=85&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/konsep-islam-tentang-etika-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tempat-tempat yang Secara Rutin Harus Dikunjungi oleh Seorang Muslim</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/tempat-tempat-yang-secara-rutin-harus-dikunjungi-oleh-seorang-muslim/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/tempat-tempat-yang-secara-rutin-harus-dikunjungi-oleh-seorang-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Dec 2007 12:05:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Tempat yang Harus Dikunjungi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/tempat-tempat-yang-secara-rutin-harus-dikunjungi-oleh-seorang-muslim/</guid>
		<description><![CDATA[Bepergian atau berkunjung ke suatu tempat adalah kegiatan yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Tempat-tempat yang rutin atau sering dikunjungi oleh manusia misalnya adalah sekolah, perkantoran, rumah ibadah, pusat kota, tempat olah raga, tempat rekreasi, tempat perbelanjaan, tempat hiburan dan sebagainya. Di bawah ini, adalah nasihat buat kaum Muslimin agar secara rutin mengunjungi lima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=84&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Bepergian atau berkunjung ke suatu tempat adalah kegiatan yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Tempat-tempat yang rutin atau sering dikunjungi oleh manusia misalnya adalah sekolah, perkantoran, rumah ibadah, pusat kota, tempat olah raga, tempat rekreasi, tempat perbelanjaan, tempat hiburan dan sebagainya. Di bawah ini, adalah nasihat buat kaum Muslimin agar secara rutin mengunjungi lima tempat di bawah ini, agar kehidupan seorang Muslim menjadi seimbang, sehat, normal dan memenuhi anjuran dan perintah agama. Bila memenuhi anjuran agama maka menjadilah ia ibadah. Lima tempat ini adalah intisari yang diajarkan dalam agama Islam.</em><span id="more-84"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>1. Maktabah</strong><br />
<em>Maktabah</em> adalah tempat mencari ilmu atau majlis ilmu. Tempat pertama yang harus secara rutin dikunjungi oleh kaum muslimin adalah majlis ilmu. Bentuknya bisa pesantren, sekolah, universitas, perpustakaan, pengajian, majlis ta’lim dan seterusnya. Mencari ilmu adalah perintah yang sangat diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Secara hukum adalah wajib bagi umat Islam seperti diperintahkan Rasulullah s.a.w: <em>“Uthlubul ‘ilma walau bishshin”</em> (Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina). Mencari ilmu adalah kewajiban dari kecil/anak-anak sampai mati: <em>“Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi”</em> (Carilah ilmu dari buaian hingga liang lahat). Secara komunitas, wajibnya mencari ilmu adalah agar umat Islam dapat membuktikan dirinya sebagai umat terbaik seperti pernyataan Allah: <em>“Antum khaira ‘ummah, ukhrijat linnâs ta’ murûna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar, wa tu’ minûbillâh.”</em>  Secara kualitas dan nilai, orang yang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah daripada orang yang tidak berilmu: <em>”Yarfa’illâhulladzîna âmanû minkum wa uthul ‘ilma darajâh.”</em></p>
<p align="justify"><strong>2. Jama’ah</strong><br />
<em>Jama’ah</em> disini maksudnya adalah teman, sahabat dan kaum kerabat. Hubungan silaturahmi dengan mereka tidak boleh putus dan harus terus dipelihara. Biasakanlah mengunjungi sahabat, teman dan kerabat, apalagi teman lama, saudara yang melihat kita sudah maju dan sukses. Ini akan lebih bermakna dan memberikan pengalaman kemanusiaan yang dalam, apalagi sambil kita memberi sesuatu atau membagi manfaat dari kemajuan dan kesuksesan kita itu sehingga bisa membantu memajukan orang. Begitu pentingnya memelihara persaudaraan, sampai-sampai Rasulullah s.a.w menegaskan tidak akan masuk sorga orang yang memutuskan persaudaraan dan silaturahmi: <em>“La yadkhulul jannah man qati’u shillah.”</em> Sebaliknya, hadits riwayat Bukhari menjelaskan: <em>“Man ahabba an yubsatha lahu fi rizqihi wa yunsa-alahu fi atsarihi fal yashil rahimahu”</em> (Barangsiapa yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka jalinlah silaturahmi (dengan keluarga dan para sahabat).</p>
<p align="justify"><strong>3. Jannah</strong><br />
Secara bahasa <em>jannah</em> artinya adalah surga, tempat yang indah. Maksud disini adalah tempat-tempat yang dapat menyegarkan badan, fikiran  dan jiwa. <em>Jannah </em>adalah kegiatan-kegiatan <em>refreshing</em> seperti olah raga, wisata, jalan-jalan ke gunung, pantai dan alam terbuka lainnya. Tujuannya, selain menyegarkan badan dan fikiran adalah untuk menyegarkan jiwa, merenungkan alam ciptaan Allah dan berdzikir mendekatkan diri kepada-Nya. Makanya, dalam melaksanakan kegiatan <em>jannah</em> mesti disertai dengan kegaitan dzikir dan perenungan, tidak hanya bersuka cita saja, hanya bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa saja. Bagi Muslim yang taat pada agama, jalan-jalan seharusnya berbeda dan ada nilai lebihnya dibandingkan dengan mereka yang bukan Muslim atau dengan yang tidak taat pada agama. Nilai lebih itu adalah adanya kegiatan tafakkur dan berdzikir untuk mengingat Allah yang menciptakan keagungan dan keindahan alam ini. Tafakur tidak mesti formal seperti pengajian, yang penting ada nuansa perenungan. Bila acara jalan-jalan mereka yang Muslim tidak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh yang bukan Muslim, atau yang tidak memperhatikan ajaran agama, lalu dimana letak keagungan ajaran Islam yang kita imani itu? Bukankah keagungan Islam itu ada pada praktek dan perilaku umatnya? Kita umumnya melupakan atau bahkan menganggap sepele pada kegiatan semacam ini. Padahal, tafakkur, secara`psikologis, akan menyegarkan jiwa dan menyehatkan pikiran. Dan ini adalah perintah Allah yang sering diingatkan pada manusia agar sering melakukannya, apalagi sambil langsung menghadapi kebesaran alam seperti di gunung atau pantai, akan lebih berbekas.</p>
<p align="justify"><strong>4. Suffah</strong><br />
Asalnya, <em>suffah</em> adalah sebuah ruangan di pinggir Masjid Nabawi tempat para shahabat Nabi dari kaum Muhajirin dan Ashar berdzikir, mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan diri dari berbagai pesona kehidupan duniawi. Orang yang melakukan ini di masjid disebut <em>Ahlu-Suffah</em>. Yang dimaskud dengan konteks <em>suffah</em> disini adalah tempat yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan duniawi yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam konteks ini, <em>suffah</em> bisa berarti masjid, pesantren, majlis dzikir, atau makam para wali Allah dan ulama yang shaleh yang dikunjungi dalam rangka mengingatkan kematian, mengkhusyukan dzikir, mendapatkan barokah orang-orang shaleh, mendekatkan diri kepada Allah dan sesekali melupakan kehidupan dunia. Berkunjung ke masjid (menghadiri pengajian), ke pesantren (memperdalam agama) dan ziarah ke makam para wali Allah (dalam rangka tafakkur) adalah sangat baik dan harus dibiasakan oleh seorang Muslim untuk mempersegar imannya.</p>
<p align="justify"><strong>5. Zawiyah </strong><br />
<em>Zawiyah</em> adalah bangunan tempat zikir (pusat aktifitas dzikir) dalam sebuah gerakan tasawuf. Zawiyah adalah tempatnya mursyid tarekat (guru sufi) dengan murid-muridnya memusatkan kegiatan dzikirnya. Mursyid tarekat sangat dekat dengan Allah SWT sehingga diberi kemampuan mengetahui rahasia-rahasia Ilahi. Berkunjung ke zawiyah adalah sebuah keharusan untuk meminta nasehat, wejangan dan bimbingan ruhani dan kehidupan agar hidup manusia selalu ingat Tuhannya dan kehidupannya terjaga keseimbangannya antara urusan dunia dan kepentingan akhirat. Agar hati hidup dan bercahaya. Berkunjung ke zawiyah harus dibiasakan dan dirutinkan sesuai pesan Rasulullah s.a.w: <em>“’Alaikum bi mujâlasil ulamâ-i, wastimâ’i kalâmil hukamâ-i, fainnallâha ta’âla yuhyil qalbal mayyita binûril hikmata kamâ yuhyi ardhal mayyita bima-il mathari” </em>(Hendaklah kalian duduk bersama ulama dan mendengarkan nasehat para hukama (ahli hikmah) yang bijaksana, karena sesungguhnya Allah Ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Allah menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan). Untuk membasahi hati, menguburkan keangkuhan dan kesombongan, dan menyeimbangan antara dominasi fikiran dan perasaan, di depan Syekh zawiyah kita merendahkan diri dan meminta nasihat. Camkan bahwa kita adalah diri yang lemah, naif, banyak kelemahan dan kekurangan. Diluar kagiatan kita di kantor, sebagai pemimpin, sebagai pemikir, penulis buku, sebagai orang pinter, menjadi tokoh di masyarakat, di zawiyah, di depan Syekh atau mursyid, kuburkan itu semua. Inilah saatnya kita mengatakan pada diri sendiri: <em>&#8220;Tidak, tidak, itu semua hanyalah urusan dunia. Diluar itu, sesungguhnya saya adalah diri yang lemah dan banyak kekurangan, saya butuh nasihat.&#8221; </em>Inilah saatnya kita mengisi hati yang kosong dan gersang dengan siraman nasihat. Kita dengar petuah seseorang yang bisa memberikan nasihat. Tidak ada manusia yang segala bisa, tidak ada manusia yang sempurna. Konsumsi hati dibutuhkan agar terjadi keseimbangan hidup, agar kehidupan hati sejajar dengan perkembangan rasio, agar kita mengarah kepada <em>insan kamil</em>. Agar hidup tidak melulu memfungsikan otak dan fikiran.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syaghafan.wordpress.com/84/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syaghafan.wordpress.com/84/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=84&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/tempat-tempat-yang-secara-rutin-harus-dikunjungi-oleh-seorang-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prioritas Spiritual Langkah-langkah Memahami Fungsi Al-Qur’an</title>
		<link>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/prioritas-spiritual-langkah-langkah-memahami-fungsi-al-qur%e2%80%99an/</link>
		<comments>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/prioritas-spiritual-langkah-langkah-memahami-fungsi-al-qur%e2%80%99an/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Dec 2007 11:54:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Moeflich</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ajaran Tentang Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/prioritas-spiritual-langkah-langkah-memahami-fungsi-al-qur%e2%80%99an/</guid>
		<description><![CDATA[Fungsi Al-Qur’an tidak cukup dijelaskan hanya sebagai pedoman hidup kaum Muslimin atau manusia secara keseluruhan. Penjelasan seperti itu sangat umum. Diperlukan penjelasan yang lebih detail bagaimana fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia tersebut. Di bawah ini dijelaskan fungsi-fungsi Al-Qur’an dari perpektif kesadaran Taubikhiyah. Selain yang sudah umum diketahui, Al-Qur’an sebagai kitab yang diturunkan Allah SWT [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=83&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><em>Fungsi Al-Qur’an tidak cukup dijelaskan hanya sebagai pedoman hidup kaum Muslimin atau manusia secara keseluruhan. Penjelasan seperti itu sangat umum. Diperlukan penjelasan yang lebih detail bagaimana fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia tersebut. Di bawah ini dijelaskan fungsi-fungsi Al-Qur’an dari perpektif kesadaran Taubikhiyah. Selain yang sudah umum diketahui, Al-Qur’an sebagai kitab yang diturunkan Allah SWT kepada manusia memiliki fungsi-fungsi abyan, burhan, ibtila’an, wujudian dan ‘iqaban. Apakah maksud istilah-istilah tersebut? Berikut penjelasannya.</em><span id="more-83"></span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>1. Fungsi Abyân </strong><br />
<em>Abyan</em> adalah Al-Qur’an berfungsi menjelaskan kebenaran yang masih diragukan, tidak dipercayai atau ditolak manusia. Misalnya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa sesuatu kaum yang menolak atau mendustakan kebenaran yang diturunkan Tuhan melalui para Nabi utusan Allah pasti akan mengalami kehancuran. Hal ini tercantum diantaranya dalam QS Al-A’raf ayat 4 &#8211; 9: “Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: &#8220;Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dzalim&#8221;. Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka). Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” Kemudian, “Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir” (QS Al-A’raf: 101).<br />
Contoh lain misalnya kehancuran dinasti Fir’aun, sebuah dinasti yang sangat berkuasa dan berlaku sombong melebihi kekuasaannya sebagai manusia dihancurkan oleh Allah seperti dikisahkan dalam Al-Qur’an. “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir&#8217;aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan” (QS Al-Baqarah: 50). “(Keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir&#8217;aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya” (QS Ali-Imran: 11).<br />
Atau Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa hancurnya lingkungan hidup itu adalah akibat ulah tangan-tangan manusia. <em>“Dzaharal fasâdu fil barri wal bahri bimâ kasabat aydinnâsi, liyudzîqahum ba’dzalladzî ‘âmilu, la’allahum yarji’ûn” </em>(Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS Ar-Rum: 41). Ini adalah fungsi-fungsi abyan (penjelasan dan peringatan) dari Al-Qur’an kepada manusia untuk mengimani kebenaran yang datang dari Allah SWT, Tuhan semesta alam.</p>
<p align="justify"><strong>2. Fungsi <em>Burhân </em></strong><br />
Fungsi burhan adalah fungsi Al-Qur’an sebagai bukti yang menunjukkan kebenarannya yang nyata (jelas). Misalnya bencana gempa dan gelombang Tsunami di Aceh adalah burhan dari kekuasaan Allah yang sering kurang diimani oleh manusia dan sebagai hukuman serta peringatan karena manusia sudah jauh dari perintah-perintah Tuhan dan manusia sudah membuat kerusakan di muka bumi. Atau banjir besar yang terjadi adalah fungsi burhan Al-Qur’an karena kerusakan hutan yang dilakukan oleh manusia, dan korban serta kerusakan sangat banyak. Allah sudah memperingatkannya dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum: 41 di atas agar jangan membuat kerusakan di muka bumi sebab akibat dan kerugiannya akan dirasakan oleh manusia sendiri.<br />
Contoh lain adalah ditemukan dan dikukuhkannya teori Big Bang yang menjelaskan awal mula terciptanya alam semesta sebagai teori yang paling kuat diterima di kalangan ilmuwan fisika, merupakan burhan dari Al-Qur’an surat An-Anbiya ayat 30:  <em>“Awalam yaralladzîna kafarû annasamâwâti wal ardha kânatâ ratqan, fafataqnâ huma, waja’alnâ minal mâ-i kulla sya’in hayyi, afalâ yu’minûn?”</em> (Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah bersatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapakah mereka tiada juga beriman?). Eksperimen Maurice Bucaille dengan bangga menemukan dua buah laut ajaib yang tidak menyatu yang satu rasanya tawar dan yang satu lagi asin. Adanya laut itu sudah dinyatakan dalam QS Al-Furqan ayat 53: <em>“Wa huwalladzi marajal bahraini hâdza ‘adzbun furâtun wa hadza milhun ajâjun, wa ja’ala baina huma barzâkhan wa hijran mahjûra”</em> (Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir, yang satu tawar lagi segar dan yang satu asin lagi pahit. Dan Dia jadikan diantara keduanya dinding dan batas pemisah yang menghalangi). Masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bukti-bukti kebenaran yang diragukan manusia atau bukti-bukti kebenaran yang ditemukan kemudian oleh manusia melalui teknologi modernnya. Semua itu menunjukkan fungsi burhan Al-Qur’an.</p>
<p align="justify"><strong>3. Fungsi<em> Ibtilâ-an  </em></strong><br />
Fungsi ibtilâ-an adalah meyakini dan mengimani kebenaran Al-Qur’an bahkan mengamalkannya tetapi terasa berat akibatnya sebagai resiko menerima dan menegakkan kebenaran. Menerima akibat yang berat dari mengimani kebenaran Al-Qur’an adalah salah satu langkah memahami kebenarannya. Misalnya, kita dibenci dan tidak disukai oleh lingkungan masyarakat karena kita mengamalkan ayat amar ma’ruf nahi munkar, atau mengamalkan ayat <em>khaffat</em> dan <em>tsaqulats mawâzinuh</em>. Resiko yang kita tanggung karena mengamalkan Al-Qur’an adalah fungsi <em>ibtilâ’an</em> atau ujian kepada kita. Atau kita meyakini kebenaran Al-Qur’an dan kita berusaha mengamalkannya tapi terasa hidup kita jadi berat, banyak godaan, banyak cobaan, sebagai bukti benarnya Al-Qur’an. Kita ingin hidup sesuai petunjuk Al-Qur’an dalam segala tindakan kita tetapi kita hidup kita jadi berubah, jadi tidak “biasa” karena kita sedang meningkatkan kesadaran yang tinggi sesuai kehendak Allah SWT. Kita jadi tidak “bebas” lagi, serba “terbatas,” serba terkontrol dst. Bila semua itu terjadi, dirasakan berat, adalah untuk menguji keteguhan iman kita. Inilah fungsi <em>ibtilâ’an</em> Al-Qur’an.</p>
<p align="justify"><strong>4. Fungsi <em>Wujudian</em></strong><br />
Fungsi <em>wujudian</em> adalah pengakuan atau bukti-bukti kebenaran yang kita rasakan dari upaya mengamalkan Al-Qur’an. Akibat yang kita rasakan itu mendapat pengakuan dari atau diakui Al-Qur’an. Misalnya, kita banyak beribadah, rajin dan ikhlas, kemudian hidup kita ternyata jadi tenang, fikiran jernih, dada lapang dst. Apa yang kita rasakan itu adalah pengakuan Al-Qur’an (Ar-Ra’du: 28) kepada kita, karena Al-Qur’an sendiri mengatakan: <em>“Alâ bi dzikrillâhi tatma’innul qulûb”</em> (Sesungguhnya banyak mengingat Allah itu membuat hati menjadi tentram). Atau misalnya, kita selalu berusaha hidup kita benar, banyak beramal, banyak beribadah, banyak infaq dan shadaqah. Intinya, kita berusaha mengamalkan ajaran agama semaksimal mungkin atau menjadikan agama sebagai pedoman kehidupan, lalu hidup kita makmur, rizki melimpah, ekonomi kita mapan. Nah, akibat yang kita rasakan ini adalah pengakuan Al-Qur’an (S. 65 : 2-3) bahwa bagi orang yang bertaqwa memang akan selalu datang rizki yang tidak diduga-duga: <em>“Wa man yattaqillâhu yaj’allâhu makhrajan, wa yarzuqhu min haitsu lâ yahtasib”</em> (Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dan akan mendatangkan kepadanya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka). Ketika merasakan kebenaran dan pengakuan Al-Qur’an ini, adalah salah satu langkah memahami Al-Qur’an</p>
<p align="justify"><strong>5. Fungsi <em>Iqâban </em></strong><br />
Fungsi <em>iqâban</em> adalah ketika Al-Qur’an dibaca, Al-Qur’an itu sendiri malah menghujat, menggugat dan melaknat pembacanya. Al-Qur’an bisa menjadi hukuman <em>(iqâban)</em> bagi yang membacanya bila banyak ketidaksesuaian antara apa yang sering dibacanya dengan akhlaknya yang buruk, kesadaran hidupnya yang rendah dan banyak pelanggaran agama dalam kehidupannya. Fungsi iqâban ini ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w SAW: <em>“Rubba tâlin lil qur’ân wal qur’ânu yal’anuhu”</em> (Banyak orang yang membaca Al-Qur’an tetapi Al-Qur’an sendiri malah melaknatnya). Al-Qur’an justru melaknat yang membacanya bila banyak ketidaksesuaian antara ayat-ayat yang dihafal dan dikuasainya dengan perilaku dan sikapnya. Misalnya, perintah Al-Qur’an tentang melakukan zakat, infaq dan shadaqah dihafal dan sering dibaca tetapi ia tidak mengamalkannya, sifatnya pelit, kikir dan susah beramal. Seseorang tahu dan hafal ayat tentang perintah berlaku adil, jangan berdusta, bersikap jujur atau memperhatikan orang miskin, tapi kelakuannya sehari-hari justru sering menindas orang, sering bohong, tidak peduli terhadap orang miskin. Terhadap orang seperti ini Al-Qur’an melaknatnya. Apalagi bila menyerukannya kepada orang lain melalui ceramah dan dakwah, Allah sangat murka: <em>“Kabura maqtan ‘indallâhi antaqûlu ma lâ taf’alûn”</em> (Besar kemurkaan di sisi Allah bagi orang yang mengatakan (menyampaikan/memerintahkan sesuatu) tapi ia sendiri tidak melaksanakannya). Jadi, selain rajin membaca Al-Qur’an, seorang Muslim harus terus-menerus memperbaiki akhlak dan sikapnya agar sesuai dengan tuntunan agama Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an, agar Al-Qur’an tidak berfungsi sebagai iqâban (hukuman) kepada dirinya, sebaliknya agar menjadi rahmat dan penyelamat.[]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/syaghafan.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/syaghafan.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/syaghafan.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/syaghafan.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/syaghafan.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/syaghafan.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/syaghafan.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/syaghafan.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/syaghafan.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/syaghafan.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/syaghafan.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/syaghafan.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/syaghafan.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/syaghafan.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/syaghafan.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/syaghafan.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=syaghafan.wordpress.com&amp;blog=2164763&amp;post=83&amp;subd=syaghafan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://syaghafan.wordpress.com/2007/12/06/prioritas-spiritual-langkah-langkah-memahami-fungsi-al-qur%e2%80%99an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1094783921021fe54f6002df52e69a4d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">moef</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
