Konsep Islam tentang Etika Bisnis

Ajaran Islam lengkap mengatur berbagai kehidupan manusia termasuk tentang mencari nakah, usaha dan mengembangkan kehidupan ekonomi. Islam mengatur tentang kegiatan ekonomi yang dalam term modern disebut bisnis. Etika Islam tentang bisnis sudah ditulis oleh sebagian orang dalam buku-buku yang ada. Tapi, ajaran dan nasihat dibawah ini pasti berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya. Etika Islam dalam bisnis itu ada lima: niat, syari’at, kaifiyat, hakikat, akhirat. Ini adalah pedoman dan nasihat penting bagi para pelaku bisnis Muslim di zaman modern yang ingin berbisnis secara Islami. Yang ingin bisnisnya bernilai ibadah, berkah dan diridhai Allah dan membawa kemajuan umat dan lingkungannya, tidak hanya perusahaannya saja. Nikmatilah penjelasannya dibawah ini.


1. Niat
Dalam Islam, berbisnis harus dilakukan dengan etika yang benar dan lurus untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT. Ibadah itu tidak hanya ritual (mahdhah) saja, tetapi juga bisa dalam lapangan ekonomi. Bisnis dalam Islam harus dilandasi niat –selain meningkatkan ekonomi diri, keluarga dan perusahaan– juga dengan niat mengembangkan ekonomi umat, mensejahterakan kaum muslimin dan ujung-ujungnya adalah mencapai ridha Allah SWT. Ridha Allah SWT ini harus menjadi kata kunci dalam bisnis. Bila ridha Allah SWT tidak diperhatikan dan tidak dipentingkan, berbisnis hanya akan memenuhi hawa nafsu dengan memperkaya diri dan perusahaan. Dalam Islam, niat bisnis tidak dibenarkan hanya untuk memperbesar modal semata atau memperkaya perusahaan semata, hanya mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, membangun konglomerasi dst. Itu adalah konsep bisnis kapitalisme. Bisnis seperti itu terlepas dari nilai-nilai agama, nilai-nilai ruhani dan lupa kepada Allah SWT dan kepada akhirat sebagai masa depan kita yang akan kita jalani. Apa artinya bisnis dan sukes di dunia kalau celaka, sengsara dan menderita di akhirat? Padahal hari akhirat itu adalah masa depan yang pasti yang akan kita lalui dimana kita akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita di dunia. ‘Masa depan’ selalu merupakan ‘keyword’ (kata kunci) dalam bisnis. Perusahaan-perusahaan besar atau bisnis-bisnis yang maju selalu memiliki konsep dan strategi bagaimana menjemput masa depan. Adalah aneh, bila tentang ‘masa depan’ yang sangat pendek yaitu kehidupan di dunia ini, sangat diperhatikan dan dikejar-kejar, tetapi masa depan sejati, masa depan yang lebih panjang tidak diperhatikan dan diabaikan. Inilah kelemahan bisnis sekuler, bisnis duniawi. Bisnis dalam Islam adalah bisnis dengan strategi masa depan yang tidak terbatas, jauh menembus kehidupan pasca dunia untuk keselamatan abadi.

2. Syari’at
Etika bisnis kedua dalam Islam adalah praktek bisnis harus berdasarkan syari’at atau tidak melanggar ketentuan syariat agama. Berbisnis tidak boleh sambil melanggar ajaran syari’at Islam. Ketentuan syari’at baik dalam modal, strategi, proses atau praktek, cara, jenis produksi, pemasaran dan seterusnya. Islam memiliki perangkat syari’at yaitu norma agama dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam usaha dan bisnis. Norma agama dalam bisnis misalnya, jujur, tidak ada penipuan, transparan, tidak menimbun kekayaan, tidak memperkaya diri sendiri saja, membayar zakat, ada semangat menolong orang kecil dan seterusnya. Bank mu’amalah dan bank syari’ah yang kini banyak menjamur adalah upaya dan contoh berbisnis berlandaskan syari’at Islam. Setelah dijalankan, ternyata bukan mustahil bank Islam yang berdasarkan syari’at  agama bisa bersaing dengan bank konvensional kapitalistik yang sudah meraksasa.

3. Kaifiyat
Etika selanjutnya adalah, berbisnis dilakukan dengan menggunakan kaifiyat (cara-cara dan praktek) Islami. Kaifiyat ini adanya di proses yaitu memperhatikan prinsip-prinsipnya yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w SAW. Misalnya, tidak mengurangi timbangan, tidak bertransaksi atau memperjualbelikan barang yang samar-samar, barang haram, tidak menghalalkan segala cara, tidak melakukan praktek sogok menyogok, praktek penipuan dst. Inti kaifiyat bisnis dalam Islam adalah adanya ijab qabul yang jelas dan tidak merugikan satu pihak, kejujuran, kerelaan, kejelasan dst.

4. Hakikat
Dalam Islam harus dipertimbangkan juga tentang hakekat bisnis. Berbeda dengan sistem kapitalisme, dimana hakikat bisnis adalah mengembangkan modal dan menciptakan kemakmuran ekonomi perusahaan. Dalam Islam, hakikat bisnis adalah ibadah kepada Allah melalui pengembangan ekonomi. Bila pemahaman hakikat bisnis ini keliru, atau hakikat ini tidak ditekankan, maka proses dan praktek bisnis bisa keliru dan salah kaprah. Penegasan hakikat bisnis dalam Islam juga dimaksudkan sebagai kontrol, menjaga agar praktek bisnis tidak salah kaprah, salah cara dan salah tujuan. Dalam Islam, segala aktifitas kehidupan harus diarahkan dalam rangka ibadah dan penyembahan kepada Allah karena Allah sendiri sudah menegaskan bahwa “wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun” (tidak semata-mata aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku). Maka bisnis pun adalah dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

5. Akhirat
Terakhir, tidak boleh dilupakan bahwa berbisnis tujuan akhirnya adalah untuk kepentingan akhirat. Bila kepentingan akhirat ini tidak diperhatikan maka bisnis bisa terjebak ke dalam kerakusan dunia (harta, materi dan kekayaan). Orientasi akhirat ini harus ditekankan, bahwa segala urusan kita di dunia ini akan ditanya dan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah rabbul ‘alamin. Bila kepentingan akhirat ini ditekankan, maka tidak akan terjadi kecurangan dan kerakusan. Kecurangan, kerakusan dan kejahatan dalam bisnis selama ini terjadi karena para pelakunya melupakan akhirat, akhirnya menghalalkan segala cara seolah tidak dipertanggungjawabankan di akhirat kelak. Tahunya hanya bagaimana menjadi kaya dan menumpuk kekayaan sebanyak-banyak sehingga lupa kepada kematian yang akan menjemputnya.[]

2 comments on “Konsep Islam tentang Etika Bisnis

  1. ya memang begitulah ajaran Islam. Tapi kenapa harus “terpenjara” dengan angka lima? menurut saya asal orientasinya ibadah seluruh prasyasrat tadi akan terlaksana.

  2. Terima kasih Kang Cecep. “Terpenjara” dalam angka lima? Hehehe … masih untung Anda memakai tanda seru, bila tidak, berarti pertanyaan Anda cukup serius.

    Pertanyaan Anda ini sama dengan: Mengapa Al-qur’an harus terpenjara dalam 30 juz? mengapa jumlah surat dlm Al-qur’an harus terpenjara dalam 114 surat? Mengapa surat Al-Fatihah jumlahnya 7 ayat? Waah… gmana tuh jawabnya. Syusyah… karena itu “dari sononya.”

    Well, kang Cecep, saya kira yang penting isinya dan mari kita mengambil hikmah dan nasihat darinya. Soal angka, saya juga gak tahu. Tapi coba baca “Tentang PHL” dalam website ini akan ketemu jawabannya.

    Saya kira keliru kita mengatakan, kalau orang niat bisnisnya ibadah, maka yang lima itu akan terlaksana. Belum tentu. Walau orang niatnya ibadah, aspek-aspek tersebut blm tentu terfikirkan, karena mengetahui yang lima ini menyangkut wawasan dan ilmu, bukan niat. Seperti shalat, kalau niatnya sudah karena Allah, apa dijamin tatacara shalatnya kemudian benar? kaifiyatnya benar, kalau ia tidak belajar ilmu shalat? Niat dan ilmu itu berbeda. Niat itu landasan, ilmu itu panduan prakteknya. Ilmu shalat itu ada di fiqh. Agar orang benar dalam tatacara shalatnya harus belajar ilmu fiqh, bukan meluruskan niatnya. Niat yang benar blum cukup, perlu ilmu sebagai panduan juknis dan nasihat sebagai kontrol. Ajaran ini pun hanya nasihat, itu pun belum tentu mau diamalkan, karena tidak mudah juga. Orang memerlukan keyakinan dan kekuatan iman untuk mengamalkan nasihat.

    Gitu ya, salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s